Harga Minyak Dunia Anjlok 43 Persen, OPEC+ Dihadapkan pada Dilema Produksi

- Minggu, 05 Juli 2026 | 10:24 WIB
Harga Minyak Dunia Anjlok 43 Persen, OPEC+ Dihadapkan pada Dilema Produksi

Harga minyak mentah dunia ambruk setelah sempat melonjak selama konflik di Iran. Kini, kekhawatiran pasar justru berbalik arah: bukan lagi soal gangguan pasokan, melainkan ancaman kelebihan pasokan global.

Mengutip data Bloomberg, harga minyak mentah Brent telah merosot sekitar 43 persen dari puncaknya pada akhir April lalu. Analis dari Morgan Stanley hingga Goldman Sachs melihat adanya risiko surplus pasokan pada tahun depan.

“Saat ini sentimen pasar sangat bearish,” kata Kitt Haines, Kepala Divisi Minyak di Energy Aspects.

Lonjakan pasokan minyak hampir sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran inflasi akibat gangguan pasokan terbesar dalam sejarah. Namun, bagi negara-negara produsen yang tergabung dalam OPEC, situasi ini justru memunculkan pertanyaan baru. Jika sebelumnya OPEC fokus pada seberapa cepat produksi dapat dipulihkan, kini pertanyaannya bergeser: apakah mereka harus kembali memangkas produksi demi menopang harga, atau bersiap menghadapi persaingan merebut pangsa pasar.

Normalisasi Arus Minyak

Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy, Jorge Leon, yang sebelumnya bekerja di Sekretariat OPEC, mengatakan normalisasi arus minyak melalui Selat Hormuz akan menjadi tantangan besar bagi OPEC .

“Tantangan sesungguhnya muncul ketika arus pengiriman telah normal, persediaan kembali meningkat, dan kelompok ini harus beralih dari menambah produksi menjadi mempertahankan pasar. Saat itulah pertanyaannya bukan lagi seberapa banyak OPEC bisa memproduksi, tetapi siapa yang bersedia memangkas produksi,” ujarnya.

Di sisi lain, analis senior Kpler, Homayoun Falakshahi, menilai penurunan harga yang lebih tajam dalam siklus penjualan minyak Timur Tengah berikutnya bisa menarik kembali pembeli dari China.

“Minyak Iran masih sulit terjual meski sudah mendapat pengecualian sanksi. Bahkan di China, minyak dari Uni Emirat Arab dan Irak kini lebih murah daripada minyak Iran. Untuk memulihkan pasar, China harus kembali membeli. Namun saya rasa kita sudah mendekati titik terendah harga,” kata Falakshahi.

Saat ini, China masih memangkas impor sekitar 5 juta barel per hari dibandingkan sebelum perang. Kondisi itu membuat berbagai jenis minyak yang biasanya dibeli kilang China diperdagangkan dengan diskon besar. Harga minyak Oman misalnya, didiskon sekitar USD 4 per barel terhadap harga minyak Dubai diskon terbesar sejak 2020. Sementara minyak Djeno asal Republik Kongo bahkan ditawarkan dengan diskon USD 14 per barel terhadap Brent.

“Pembeli dari China masih sangat minim. Tanpa kembalinya permintaan China secara signifikan, tambahan pasokan hanya akan memperbesar surplus yang mulai terbentuk,” tulis analis Citigroup yang dipimpin Francesco Martoccia.

Salah satu pemicu utama meningkatnya pasokan minyak dunia secara keseluruhan adalah kembali terbukanya Selat Hormuz. Setelah jalur pelayaran tersebut kembali beroperasi, lebih dari 60 juta barel minyak yang sebelumnya tertahan akibat perang mulai masuk ke pasar global.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags