Toyota Motor Corp mencatat penurunan penjualan global sebesar 7,2 persen pada Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menjadi 834.279 unit. Ini merupakan penurunan bulan keempat berturut-turut bagi produsen mobil terbesar dunia berdasarkan volume tersebut.
Lesunya permintaan di China menjadi faktor utama. Penjualan Toyota di Negeri Tirai Bambu merosot 31,7 persen menjadi 102.299 kendaraan, akibat lingkungan pasar yang terus memburuk. Selain itu, kenaikan harga bahan bakar minyak yang dipicu konflik Timur Tengah turut menekan penjualan mobil konvensional.
Ekspor Toyota dari Jepang ke Timur Tengah anjlok 65,9 persen menjadi 7.323 kendaraan pada bulan pelaporan, menandai penurunan tiga bulan beruntun. Penjualan di kawasan Timur Tengah secara keseluruhan juga turun 38,6 persen menjadi 29.568 unit.
Produksi global Toyota turun 5,5 persen menjadi 765.470 mobil, penurunan pertama dalam tiga bulan. Produksi di luar negeri merosot 9,4 persen menjadi 514.882 unit, terutama karena berkurangnya hari kerja di Amerika Utara dan Eropa. Produksi di China bahkan anjlok 23,0 persen menjadi 98.536 unit.
Namun, ada kabar baik dari pasar domestik Jepang. Penjualan di Jepang tumbuh 11,1 persen menjadi 118.381 unit, didorong oleh model-model baru seperti sport utility RAV4 dan kendaraan listrik bZ4X. Produksi dalam negeri juga naik 3,7 persen menjadi 250.588 unit, kenaikan pertama dalam tujuh bulan, berkat peluncuran model baru.
Di India, penjualan Toyota melonjak 15,3 persen menjadi 30.227 unit, terbantu pemotongan pajak pada mobil. Sementara itu, penjualan di Amerika Serikat hampir stagnan, hanya turun 0,6 persen menjadi 238.800 unit, meskipun permintaan kendaraan hybrid tetap kuat.
Artikel Terkait
Pemerintah Klaim Ekonomi Nasional Tetap Kuat di Tengah Ketidakpastian Global
Spam Promosi Judi Online Naik 128 Persen Selama Piala Dunia 2026
Golkar Dorong Pembahasan RUU Pemilu Segera Dimulai
Marc Marquez Desak Perbaikan Gravel di Sirkuit Assen Usai Rentetan Kecelakaan