Lima puluh tahun lalu, sembilan dari sepuluh warga China hidup dalam kemiskinan yang nyaris abad pertengahan. Kini, angka kemiskinan ekstrem di negara itu menyusut drastis menjadi kurang dari satu persen. Transformasi ini, menurut Bank Dunia, bukanlah mukjizat melainkan hasil dari metode, disiplin, dan pendekatan ilmiah terhadap persoalan.
Pada 1978, ketika Deng Xiaoping mengambil alih kepemimpinan, mayoritas penduduk China hidup dengan pendapatan di bawah dua dolar AS per hari. Deng mengucapkan kalimat yang menjadi tonggak perubahan: "Tak peduli kucing itu putih atau hitam, yang penting ia menangkap tikus." Frasa itu menandai pergeseran dari ideologi ke efektivitas. Pendidikan dan keterampilan teknis diutamakan, bukan sekadar pidato.
Langkah awal diambil di desa kecil Xiaogang pada 1980. Delapan belas petani menandatangani kontrak rahasia untuk mengelola tanah seperti pengusaha swasta sebuah tindakan yang nyaris dianggap kriminal saat itu. Hasilnya, dalam setahun produksi biji-bijian mereka melampaui total produksi sepuluh tahun sebelumnya. Deng menjadikan eksperimen ini sebagai model reformasi nasional.
Zona Ekonomi Khusus dan Uji Coba Terbatas
Alih-alih mengubah seluruh negeri sekaligus, China memulai dengan laboratorium wilayah yang disebut Zona Ekonomi Khusus. Shenzhen, pada 1980, hanyalah desa nelayan dengan kurang dari 30.000 penduduk. Kini kota itu dihuni lebih dari 18 juta jiwa dan menjadi markas raksasa teknologi seperti Huawei, BYD, dan Tencent. Pertumbuhan Shenzhen bukan mukjizat, melainkan prototipe: jika berhasil, diperluas; jika gagal, diperbaiki.
Industrialisasi Sebelum Konsumsi
China memilih jalur berbeda dari banyak negara berkembang. Alih-alih memulai dengan konsumsi, mereka memproduksi untuk diekspor. Pada 1980-an, memiliki sepeda atau televisi masih kemewahan, namun pabrik-pabrik sudah memproduksi pakaian, mainan, dan peralatan sederhana untuk pasar global. Uang mengalir dari luar, nilai tambah tetap di dalam negeri.
Infrastruktur sebagai Tulang Punggung
Antara 1990 dan 2020, China membangun lebih dari 140.000 kilometer jalan raya dua kali lipat jaringan AS dan lebih dari 40.000 kilometer jalur kereta cepat, yang mencakup 70 persen total jaringan dunia. Ketika seorang petani bisa membawa produknya ke pasar dalam 30 menit alih-alih lima jam, itu bukan mukjizat, melainkan rekayasa ekonomi.
Disiplin Kolektif
Ketika pemerintah China menetapkan tenggat, proyek diselesaikan tepat waktu. Contohnya, rumah sakit darurat di Wuhan pada 2020 dibangun dalam sepuluh hari dengan mobilisasi lebih dari 7.000 pekerja yang bekerja siang-malam secara bergilir. Di banyak negara lain, pembangunan gedung administratif sederhana bisa memakan waktu bertahun-tahun dan kerap tidak selesai.
Kemiskinan bukanlah kutukan. China mengalahkannya tanpa doa, tetapi bukan tanpa moral. Moral mereka adalah kerja keras, disiplin, organisasi kolektif, ilmu pengetahuan, keberanian mencoba, dan tekad untuk terus memperbaiki diri.
Artikel Terkait
Penjualan Global BYD Naik Dua Bulan Berturut-turut, Tumbuh 5,5 Persen pada Juni
Ferrari Luce Ludes Terjual di China, Harga Lebih Murah 7 Persen dari Eropa
Penjualan Global Toyota Anjlok 7,2 Persen pada Mei, Tertekan Pasar China dan Timur Tengah
DeepSeek akan Gandakan Jumlah Karyawan di Tengah Kompetisi AI China