Menkeu: Stabilkan Rupiah Butuh Waktu karena Tak Bisa Intervensi Langsung Pasar Dolar

- Kamis, 14 Mei 2026 | 12:40 WIB
Menkeu: Stabilkan Rupiah Butuh Waktu karena Tak Bisa Intervensi Langsung Pasar Dolar

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan bahwa upaya menstabilkan nilai tukar rupiah memerlukan waktu lantaran Kementerian Keuangan tidak memiliki kewenangan untuk melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing. Langkah yang ditempuh justru melalui penguatan pasar Surat Berharga Negara (SBN) atau pasar obligasi.

“Itu kan perlu waktu. Kita kan enggak masuk ke pasar dolar langsung. Tapi kita hanya menjaga stabilitas bond market,” ujar Purbaya di kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Menurutnya, stabilitas di pasar obligasi menjadi kunci utama agar tekanan terhadap mata uang Garuda tidak semakin dalam. Pemerintah, kata dia, akan bergerak secara perlahan untuk memastikan imbal hasil obligasi tetap menarik bagi para investor. “Kita akan bantu sedikit-sedikit nanti,” katanya.

Sementara itu, Purbaya mengklaim kondisi pasar obligasi mulai menunjukkan tren positif seiring dengan kembalinya minat investor asing ke pasar domestik. “Asing juga masuk sih. Ini kayaknya bond-nya sudah mulai stabil lagi. Dan kita lihat ke depan seperti apa. Tapi yang jelas kita monitor kondisi di pasar bond sekarang,” ujar Purbaya.

Di sisi lain, pemerintah juga tengah mempertimbangkan opsi pembelian kembali atau buyback SBN di pasar sekunder. Purbaya telah memberikan instruksi kepada Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) untuk menyiapkan teknis pelaksanaan yang kemungkinan akan berjalan dalam beberapa bulan ke depan.

Meski nilai tukar rupiah sempat merosot ke level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat, Purbaya memastikan kondisi tersebut belum mengganggu postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya terkait subsidi energi. Hal itu, menurutnya, lantaran pemerintah telah melakukan simulasi risiko dengan parameter harga minyak yang cukup tinggi.

“Terus rupiah itu dampaknya apa? Waktu kita hitung kemarin 120 per barrel, ya rupiahnya dekat-dekat situ, jadi enggak ada masalah. Saya enggak harus hitung ulang,” katanya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar