Ketidakpastian ekonomi dan meningkatnya tekanan biaya hidup mulai mengubah perilaku keuangan kelas menengah atas dan kelompok usia produktif di Indonesia, terutama dalam hal pengeluaran kesehatan. Konsumen kini dilaporkan semakin berhati-hati dalam mengelola anggaran, cenderung lebih selektif, dan berorientasi pada nilai atau value-oriented dalam setiap keputusan belanja.
Head of Research RHB Sekuritas Indonesia, Andrey Wijaya, mengungkapkan bahwa meskipun masyarakat tetap berbelanja, fokus utama mereka telah bergeser ke pemenuhan kebutuhan prioritas dan penguatan dana darurat. “Konsumen tetap berbelanja, namun lebih fokus pada kebutuhan prioritas, promo, efisiensi pengeluaran, serta menjaga likuiditas dan dana darurat di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan biaya hidup,” ujarnya dalam keterangan yang diterima pada Kamis (14/5/2026).
Akibatnya, pengeluaran besar yang bersifat opsional atau discretionary, seperti pembelian properti, kendaraan, hingga gaya hidup premium, cenderung ditunda. Kegiatan seperti liburan, renovasi rumah, dan konsumsi barang tersier menjadi aspek pertama yang dipertimbangkan ulang demi menjaga stabilitas arus kas.
Di sektor kesehatan, industri ini dinilai relatif lebih defensif dibandingkan sektor konsumsi lain karena sifatnya yang krusial. Namun, perubahan perilaku konsumen tetap terjadi. “Untuk kesehatan, masyarakat umumnya masih memprioritaskan kebutuhan medis utama, namun pengeluaran yang sifatnya elektif atau non-urgent mulai lebih selektif,” jelas Andrey.
Perubahan tersebut tampak dari kecenderungan masyarakat menunda tindakan medis yang tidak mendesak atau memilih layanan yang lebih efisien dengan memanfaatkan asuransi dan BPJS. Konsumen kini juga lebih aktif membandingkan harga serta kualitas layanan sebelum mengambil keputusan medis.
Sementara itu, salah satu pergeseran signifikan diperkirakan terjadi pada tren berobat ke luar negeri. Pelemahan nilai tukar rupiah dan tingginya biaya perjalanan menjadi faktor utama yang memaksa masyarakat untuk menghitung ulang rencana tersebut. “Keputusan untuk berobat ke luar negeri kemungkinan mulai lebih dipertimbangkan ulang, terutama dengan pelemahan rupiah dan tingginya biaya perjalanan. Sebagian masyarakat mungkin menunda treatment, mengurangi frekuensi medical check-up di luar negeri, atau mulai mempertimbangkan rumah sakit domestik yang kualitas layanannya semakin kompetitif,” papar Andrey.
Kondisi ini dinilai membuka peluang bagi rumah sakit dalam negeri untuk menarik kembali pasar kelas menengah atas. Dengan menawarkan layanan yang bersaing dari segi kualitas namun tetap efisien dari sisi biaya, rumah sakit domestik dapat menjadi alternatif utama di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin hati-hati.
Artikel Terkait
Parkir Blok M Square Kembali Beroperasi Usai Disegel, Warga Harap Pengelolaan Lebih Tertib
178 Lapak PKL di Mariso Makassar Ditertibkan, Sebagian Dibongkar Sendiri Usai Tiga Kali Ditegur
Menteri Pertanian Targetkan Stok Beras Pemerintah Capai 5,5 Juta Ton pada Akhir Mei 2026
Tiga Klub Besar Super League Berebut Bek PSM Aloisio Neto, Bali United Juga Incar Bart Straalman