Pemerintah Terbitkan Panda Bond di China untuk Perkuat Rupiah dan Kurangi Ketergantungan pada Dolar AS

- Rabu, 06 Mei 2026 | 11:20 WIB
Pemerintah Terbitkan Panda Bond di China untuk Perkuat Rupiah dan Kurangi Ketergantungan pada Dolar AS

Pemerintah menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, salah satunya dengan menerbitkan instrumen utang berbasis yuan yang dikenal sebagai Panda Bond di pasar China. Langkah ini diambil sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus memperluas sumber pembiayaan dengan biaya yang lebih efisien.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengungkapkan bahwa penerbitan obligasi tersebut menawarkan bunga yang lebih rendah dibandingkan instrumen utang konvensional. “Untuk memperkuat nilai tukar, kami juga akan menerbitkan bond dalam Panda Bond di China dengan bunga yang lebih rendah sehingga kita tidak tergantung terlalu banyak ke dolar lagi,” katanya usai pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa malam (5/5/2026).

Menurut Purbaya, strategi diversifikasi pembiayaan ini akan memperkuat prospek ekonomi Indonesia ke depan. Ia juga menegaskan bahwa kondisi fiskal nasional saat ini berada dalam keadaan aman. “Jadi diversifikasi kita akan lebih baik lagi ke depan. Jadi prospek kita bagus, teman-teman semua nggak usah takut. Tadi Pak Presiden juga bilang sama saya suruh sampaikan pesan bahwa uang saya cukup, duitnya banyak, jadi Anda nggak usah takut,” ujar dia.

Di sisi lain, Purbaya menilai perekonomian Indonesia tengah memasuki fase akselerasi. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61 persen, meningkat dibandingkan periode sebelumnya. “Kita memang sudah bisa membalik arah ekonomi. Dulu kan sebelumnya 5,39 (persen) sekarang 5,61 dibandingkan sebelum-sebelumnya 5 atau di bawah 5 sedikit kan. Jadi ekonomi kita sedang mengalami akselerasi,” katanya.

Namun, percepatan ini belum sepenuhnya disadari oleh pelaku pasar. Purbaya mengakui masih ada investor yang cenderung berhati-hati hingga menarik dana dari pasar modal, padahal ia melihat kondisi saat ini sebagai peluang. “Itu yang tidak disadari banyak orang sehingga orang agak takut dan keluar dari pasar modal. Kan saya kemarin-kemarin bilang serok, serok, serok aja kalau mereka ikut mestinya nanti ke depan akan untung banyak,” ujarnya.

Sementara itu, pemerintah berkomitmen menjaga momentum pertumbuhan pada kuartal kedua melalui berbagai kebijakan. Koordinasi dengan bank sentral terus dilakukan untuk memastikan kondisi likuiditas tetap stabil. Selain itu, pemerintah berencana meluncurkan stimulus tambahan. “Kita akan memberikan stimulus tambahan ke perekonomian yang nggak lama lagi akan diumumkan. Ya mungkin 1 Juni akan mulai jalan,” ujar Purbaya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar