Irak menawarkan diskon besar-besaran kepada pembeli minyak mentah yang bersedia mengambil risiko melewati Selat Hormuz sepanjang Mei 2026. Tawaran ini muncul di tengah eskalasi konflik yang membuat jalur pelayaran strategis tersebut nyaris lumpuh.
Perusahaan migas milik negara, SOMO, memberikan potongan harga hingga 33,40 dolar AS per barel untuk minyak mentah andalan mereka, Basrah Medium. Dalam pemberitahuan resminya, SOMO menegaskan bahwa klausul force majeure tidak berlaku untuk penawaran ini.
"Mengingat penawaran ini telah dikeluarkan dalam kondisi luar biasa yang sudah diketahui oleh semua pihak," demikian pernyataan SOMO.
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz praktis terhenti sejak perang pecah pada akhir Februari. Kapal-kapal enggan melintas karena ancaman serangan dari Iran. Situasi ini memukul langsung sektor ekspor minyak Irak, yang menjadi salah satu produsen pertama di kawasan yang terpaksa memangkas produksi. Penyebabnya, kapasitas penyimpanan cadangan cepat terisi akibat terhentinya pengiriman dari Teluk Persia.
Dampaknya terlihat jelas di pelabuhan Basrah, selatan Irak. Sepanjang April, hanya dua kapal yang berhasil memuat minyak di pelabuhan tersebut. Angka ini merosot drastis dibandingkan Maret yang masih mencatatkan 12 kapal. Padahal, dalam kondisi normal, sekitar 80 tanker setiap bulan beroperasi memuat minyak di pelabuhan yang sama.
Meskipun Irak masih mengekspor minyak mentah melalui pipa, volumenya jauh lebih kecil dibandingkan pengiriman jalur laut. Diskon besar ini menjadi semacam insentif bagi pembeli yang berani menghadapi risiko keamanan di Selat Hormuz.
Artikel Terkait
iNews Media Group Luncurkan Program Campus Connect untuk Jembatani Kampus dan Industri Media
Pelajar SMK di Samarinda Meninggal Akibat Sepatu Terlalu Kecil, Sempat Alami Pembengkakan Kaki
Pemerintah Terbitkan Panda Bond di China untuk Perkuat Rupiah dan Kurangi Ketergantungan pada Dolar AS
Harga Minyak Tinggi dan Rupiah Melemah, Indonesia Hadapi Ancaman Kelangkaan Pasokan Energi