Menteri Pertanian Bantah Data Swasembada Beras Rekayasa, Beberkan Kebijakan Pompanisasi hingga Cetak Sawah

- Minggu, 26 April 2026 | 07:30 WIB
Menteri Pertanian Bantah Data Swasembada Beras Rekayasa, Beberkan Kebijakan Pompanisasi hingga Cetak Sawah

IDXChannel Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman buka-bukaan soal kunci kebijakan pemerintah di balik swasembada beras dan kesejahteraan petani yang disebut-sebut meningkat. Ia membeberkannya langsung di depan pengamat lintas bidang, saat sidak terbuka di gudang Bulog Karawang, Kamis (23/4) lalu.

Suasana di gudang itu cukup ramai. Amran berdiri di antara tumpukan karung beras, lalu dengan lantang menepis tuduhan kalau data swasembada beras 2025 cuma hasil rekayasa. “Bukan BPS saja yang bilang produksi kita naik,” katanya.

Menurut Amran, data dari FAO dan USDA juga mengonfirmasi hal yang sama. FAO mencatat produksi beras Indonesia pada musim tanam 2025/2026 mencapai 35,6 juta ton. Sementara USDA menyebut angka 34,6 juta ton untuk 2025. “Artinya, Amerika mengatakan 34,6 juta ton. FAO bilang 35,6 juta ton,” ujarnya, dikutip Minggu (26/4/2026).

Nah, di balik angka-angka itu, ada sederet kebijakan yang disebut jadi pemicu. Mulai dari pembangunan irigasi, pompanisasi, perbaikan benih, sampai cetak sawah baru. Semuanya disebut berjalan beriringan.

Amran kasih contoh konkret. Lewat pompanisasi, sawah tadah hujan yang biasanya cuma panen setahun sekali, kini bisa dua kali. Gak perlu nunggu musim hujan lagi. “Dari pompanisasi lahan 1 juta hektare saja, produksi bisa naik 5 juta ton Gabah Kering Panen,” jelasnya. Ia menambahkan, rata-rata hasil panen padi di Indonesia mencapai 5 juta ton GKP per hektare.

“Kita tanam satu kali jadi dua kali karena pompanisasi. Naik lah 1 juta hektare. Kalau 1 juta hektare, itu panen naik 5 juta ton GKP,” tuturnya.

Di sisi lain, peningkatan produksi juga didongkrak dari lahan rawa yang tadinya nganggur. Ditambah lagi dengan alat mesin pertanian modern dan benih yang lebih unggul. “Ada alat mesin pertanian dan seterusnya. Kemudian ekstensifikasi, cetak sawah 200 ribu hektare,” ujar Amran.

Lalu, bagaimana dengan kesejahteraan petani? Pemerintah, kata Amran, berusaha keras menyediakan sarana produksi yang memadai. Pupuk subsidi dijamin ada. Irigasi diperbaiki. Harga Pembelian Pemerintah (HPP) buat hasil panen juga dinaikkan.

Dampaknya, biaya produksi petani jadi lebih ringan. Mereka pun lebih semangat nanam. Hasil panen melimpah, harga jual pun lebih baik. “Sarana produksi baik. Harga pupuk dikurangi 20 persen. Irigasi diperbaiki. Pompanisasi. HPP naik. Petani bersorak dan menikmati ini. Seluruh Indonesia, 115 juta keluarga petani. Kesejahteraannya lebih baik. Daya belinya naik,” katanya.

Menurut data BPS, Nilai Tukar Petani (NTP) bahkan mencapai rekor tertinggi 125,45 pada Februari 2026. “Ini kata BPS, bisa dicek. Kalau data saya bisa subjektif. Tapi ini data BPS,” tegas Amran.

Stok cadangan beras pemerintah (CBP) juga disebut tembus 5 juta ton tertinggi sepanjang sejarah. Amran pun menantang siapa pun yang ragu untuk datang langsung dan lihat sendiri. “Teman-teman wartawan, pengamat, guru besar, silakan cek. Boleh cek seluruh gudang di Indonesia tanpa kecuali. Kami minta Dirut Bulog kasih ruang buat siapa pun yang mau lihat langsung. Bahkan anak SMA, mahasiswa, aktivis, saya lihat masuk ke gudang. Silakan masuk, silakan cek. Ini tanggung jawab kita bersama. Ini hasil kerja keras kita semua,” pungkasnya.

(kunthi fahmar sandy)

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar