JAKARTA Kasus dugaan pelecehan lewat chat yang melibatkan 16 mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FH-UI) menuai reaksi prihatin dari kalangan ulama. Siti Ma'rifah, Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga, dengan tegas menyatakan bahwa tindakan semacam itu tak punya tempat dalam agama, moral, maupun hukum.
"Sangat prihatin," ujarnya di Jakarta, Sabtu (18/4/2026). "Kekerasan seksual, baik verbal maupun fisik atau apapun namanya, tidak bisa dibenarkan."
Menurutnya, akar masalahnya bisa jadi berasal dari paparan pornografi. Meski Indonesia sudah punya UU tentang Pornografi, tampaknya implementasinya masih perlu diperketat.
Di sisi lain, Siti Ma'rifah memberi apresiasi pada langkah cepat UI yang menonaktifkan status para mahasiswa terduga. Ia menilai investigasi yang dilakukan FH-UI untuk mengurai penyebab dan kronologi kejadian sudah tepat.
"Dari hasil investigasi penyebab dan kronologis serta akibat yang ditimbulkan, baru bisa disimpulkan tindakan lanjutan apakah DO atau proses hukum,"
Namun begitu, ia punya pandangan lain. Alih-alih hanya memberi sanksi, ia mendorong adanya upaya pembinaan dan rehabilitasi bagi para mahasiswa tersebut, terutama jika terbukti ada ketergantungan pada konten pornografi.
Perhatiannya juga tertuju pada korban. Perlindungan dan pendampingan yang memadai, katanya, mutlak diperlukan agar trauma berkepanjangan bisa dihindari.
"Dalam sistem pendidikan kita, lebih dikuatkan lagi pembinaan mental dan spiritual," ungkap Siti Ma'rifah. Penerapan kurikulum berbasis budaya dan akhlak, termasuk di perguruan tinggi, dinilainya sangat krusial.
Poinnya jelas: mahasiswa tak cuma perlu pintar secara akademis. Kesehatan jiwa, sikap menjunjung martabat diri dan orang lain, itu yang tak kalah penting.
Ia lantas menyoroti peran pemerintah. Siti Ma'rifah meminta Menteri Komunikasi dan Informatika, Meutya Hafid, untuk lebih gencar menertibkan situs-situs berbau pornografi yang masih bebas beredar.
"Kemendiknas dan kampus harus terus meningkatkan mutu pendidikan terkait pembentukan karakter. Beri kegiatan positif bagi mahasiswa agar timbul simpati dan empati,"
Ajakan terakhirnya ditujukan ke semua pihak. Jangan sampai obrolan tak pantas, candaan vulgar, atau hal-hal yang merendahkan martabat terutama perempuan dianggap biasa. Itu bahaya.
"Peran orang tua dan lingkungan kampus sangat penting," katanya menutup pernyataan. Menciptakan ekosistem pendidikan yang sehat, lahir dan batin, adalah tugas bersama.
Artikel Terkait
Bappenas Soroti Ketergantungan Daerah pada Dana Pusat Capai 83 Persen
Gubernur DKI Serukan Kolaborasi untuk Perdamaian Global di Acara Renungan Monas
Iran Tutup Kembali Selat Hormuz Usai Insiden Dekati Kapal Tanker
Dua Kapal Pertamina Bersiap Melintasi Selat Hormuz Usai Tertahan