Menkes: Gemuk Itu Masalah, Targetkan Harapan Hidup 76 Tahun dengan Skrining Masif

- Selasa, 20 Januari 2026 | 04:06 WIB
Menkes: Gemuk Itu Masalah, Targetkan Harapan Hidup 76 Tahun dengan Skrining Masif

Menkes Soroti Obesitas dan Targetkan Usia Harapan Hidup 76 Tahun

Di awal tahun 2026, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin kembali mengingatkan publik soal sejumlah isu kesehatan yang masih jadi tantangan besar. Ia berbicara blak-blakan dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR, Senin lalu. Fokusnya jelas: penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes, yang menurutnya bisa dicegah kalau deteksi dini lewat program Cek Kesehatan Gratis (CKG) digencarkan.

“Gemuk Itu Masalah,” Tegas Menkes

Budi Gunadi Sadikin tak sungkan menyebut persoalan kegemukan secara gamblang. Menurutnya, obesitas adalah pintu masuk bagi berbagai penyakit serius yang kini banyak menghantui masyarakat dewasa.

“Nah, dewasa ini ya mungkin saya sempat agak tidak populer di sana, tapi kenyataannya memang gemuk itu masalah. Gemuk itu masalah,” ujar Budi di Kompleks Parlemen, Senayan.

Ia menjelaskan, risiko hipertensi, kolesterol tinggi, dan diabetes mengintai mereka yang berat badannya berlebih. Yang menarik, ia meragukan data survei yang ada. Angka penderita diabetes di Indonesia tercatat 13 persen, tapi Budi merasa itu terlalu rendah. “Ini rendah sekali. Dia mungkin seharusnya 50 sampai 60 persen dari tekanan darah tinggi, ya. Tapi kita ketangkapnya waktu skriningnya kenapa rendah sekali,” katanya.

Hasil CKG: Baru 191 Ribu dari 6 Juta Hipertensi Terkendali

Program CKG ternyata masih punya pekerjaan rumah besar. Dari sekitar enam juta peserta yang terdeteksi hipertensi, baru 191 ribu orang yang tekanan darahnya benar-benar terkendali. Angka itu diakui Budi masih jauh dari harapan.

“Nah kita coba jalankan di beberapa puskesmas, ya prestasinya belum bagus. Dari 6 juta yang hipertensi, yang terkendali baru 191 [ribu],” tuturnya.

Hipertensi yang dibiarkan, lanjutnya, adalah bom waktu. Risiko stroke dan serangan jantung mengintai. Karena itu, targetnya tahun ini adalah mengendalikan 90 persen dari angka enam juta itu. Caranya? Dengan menyediakan obat generik murah di puskesmas dan pemantauan berkala. “Terkendali itu artinya dapat obat, terus diperiksa lagi tiap beberapa bulan,” jelas Budi.

Kanker Payudara dan Pentingnya Deteksi Dini

Di sisi lain, Budi juga menyoroti tingginya angka kematian akibat kanker payudara pada perempuan Indonesia. Penyakit ini masih jadi pembunuh nomor satu akibat kanker. Padahal, peluang sembuhnya sangat besar jika ditemukan lebih awal.

“Ini khusus untuk wanita. Karena ini pembunuh nomor satu di kanker. Dengan teknologi sekarang, yang wanita kalau kanker payudara ketahuan stadium satu, itu 90 persen bisa disembuhkan,” jelasnya.

Sayangnya, banyak kasus baru ketahuan di stadium lanjut. Budi mendorong perempuan untuk rajin memeriksa diri dan memanfaatkan fasilitas skrining.

CKG Akan Masuk ke Kantor-kantor, Termasuk DPR

Agar jangkauannya lebih luas, Budi ingin CKG tak cuma di puskesmas dan sekolah. Tahun ini, program itu akan digelar di tempat kerja.

“Termasuk DPR Republik Indonesia, kita ukur,” ujarnya sambil menyebut pentingnya pemeriksaan rutin untuk penyakit yang sering tanpa gejala.

Banyak orang baru sadar sakit setelah komplikasi datang. Dengan skrining di kantor, diharapkan kesadaran akan kesehatan meningkat dan biaya pengobatan jangka panjang bisa ditekan.

Perkiraan 28 Juta Warga Alami Masalah Kejiwaan

Isu kesehatan jiwa juga tak kalah serius. Menkes memperkirakan sekitar 28 juta penduduk Indonesia mengalami masalah kejiwaan, dari yang ringan hingga berat. Angka itu berdasarkan perhitungan dari data WHO.

“Bisa itu depresi, disorder atau anxiety disorder, yang lebih berat ada skizofrenia, ada ADHD, ada penyakit-penyakit jiwa tuh ada banyak juga,” jelas Budi.

Untuk menanganinya, puskesmas akan disiapkan sebagai garda terdepan. “Kita sekarang sedang bangun sistemnya supaya bisa dilayani di puskesmas-puskesmas,” pungkasnya. Nantinya, puskesmas akan punya tenaga terlatih untuk deteksi dini dan konseling dasar.

Skrining Pakai AI dan Target Usia Harapan Hidup

Menkes juga mulai menggencarkan skrining dengan bantuan kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini, katanya, bisa belajar dari jutaan data pasien. “Dia kayak dokter, cuma kalau dokter pengalamannya 1.000 pasien, 5.000 pasien. Ini 5 juta pasien, 10 juta pasien dia belajar,” ujarnya. Tentu saja, AI hanya alat bantu, bukan pengganti dokter.

Semua upaya ini bermuara pada satu target besar: menaikkan usia harapan hidup rata-rata orang Indonesia dari 72 tahun menjadi 76 tahun. Tak cuma panjang umur, tapi juga sehat. “Rata-rata usia hidup sehat itu naik dari 60 ke 65,” katanya. Target ini tercantum dalam Rencana Induk Bidang Kesehatan yang tinggal tunggu tandatangan Presiden.

Kabar Baik: Iuran BPJS 2026 Tak Naik

Ada kabar yang mungkin bisa sedikit meringankan beban. Budi memastikan iuran BPJS Kesehatan tahun 2026 tidak akan dinaikkan. Pemerintah akan menyuntikkan dana segar sebesar Rp 20 triliun dari APBN untuk menutup kebutuhan. “BPJS akan mendapatkan suntikan dana Rp 20 triliun dari pemerintah,” kata Budi usai rapat.

Pada akhirnya, Budi menegaskan bahwa tujuan semua program kesehatan, terutama CKG, bukan sekadar angka skrining. “Tujuannya adalah masyarakat kita sehat. Cuma satu tujuannya,” tegasnya. Sehat yang dimaksud adalah terkendalinya tekanan darah dan gula darah, jauh sebelum warnanya ‘kuning’ apalagi ‘merah’ di alat ukur. Itulah yang sedang diperjuangkannya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar