Iran Bergolak: Protes Ekonomi Meluas, Khamenei Beda Sikap dengan Presiden

- Selasa, 06 Januari 2026 | 10:35 WIB
Iran Bergolak: Protes Ekonomi Meluas, Khamenei Beda Sikap dengan Presiden

Gelombang protes yang mengguncang Iran sudah berjalan lebih dari seminggu. Situasinya makin tegang. Menurut laporan dari beberapa kelompok HAM yang dikutip Reuters, korban jiwa terus berjatuhan sedikitnya 16 orang tewas. Human Rights Activists News Agency (HRANA) mencatat angka serupa sejak demonstrasi pecah. Sementara itu, kelompok hak asasi Hengaw bahkan menyebut angka kematian akibat bentrokan mencapai 17 orang.

Penangkapan massal juga terjadi. Lebih dari 580 orang dilaporkan diamankan aparat dalam operasi penertiban yang digelar di berbagai wilayah.

Semua ini berawal dari kekecewaan publik yang meledak. Inflasi yang meroket, nilai tukar rial yang anjlok, ditambah kondisi ekonomi yang kian sulit benar-benar memukul daya beli masyarakat. Awalnya, unjuk rasa ini bersifat lokal. Tapi api kemarahan itu dengan cepat menjalar. Kini, aksi protes sudah menyebar ke berbagai kota besar, termasuk Teheran, sejumlah wilayah di Iran barat, dan provinsi Baluchistan Selatan.

Yang menarik, penggerak awalnya justru para pedagang di kawasan bazar sektor yang selama puluhan tahun jadi penopang ekonomi tradisional Iran. Pemicunya adalah keputusan pemerintah menutup lembaga publik untuk menghemat bahan bakar. Gerakan para pedagang itu kemudian seperti gayung bersambut. Mahasiswa, pekerja, dan kelompok masyarakat lain pun turun ke jalan.

Menurut data HRANA, demonstrasi telah terjadi di lebih dari 170 lokasi, tersebar di 25 dari total 31 provinsi di Iran. Angka itu menunjukkan betapa luasnya gelombang ketidakpuasan ini.

Para pengamat melihat, skala geografis yang sedemikian luas memang mencerminkan tingkat ketidakpuasan yang mendalam, meski intensitas dan jumlah massa di tiap daerah bisa berbeda-beda. Gelombang protes kali ini disebut-sebut sebagai yang terbesar sejak 2022, ketika kematian Mahsa Amini perempuan 22 tahun yang meninggal dalam tahanan polisi moral memicu demonstrasi nasional berbulan-bulan.

Namun begitu, banyak aktivis dan analis berpendapat bahwa aksi sekarang belum mencapai tingkat mobilisasi dan eskalasi seperti dua tahun lalu. Tapi, fakta bahwa demonstrasi meluas ke banyak provinsi, ditambah korban jiwa dan penangkapan yang terus bertambah, menandakan potensi ketegangan yang masih bisa membesar. Apalagi kondisi ekonomi Iran makin buruk, sementara ruang dialog antara pemerintah dan rakyat terasa kian sempit.

Khamenei Akhirnya Bicara

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, baru pada Sabtu lalu menyampaikan pernyataan publik pertamanya terkait gelombang protes ini. Dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah, ia membuat pembedaan yang jelas.

“Kami berbicara dengan para demonstran, para pejabat juga harus berbicara dengan mereka,” kata Khamenei.

“Namun tidak ada manfaatnya berbicara dengan para perusuh. Para perusuh harus diberi pelajaran.”

Khamenei juga kembali menuding keterlibatan pihak asing, meski tanpa menyertakan bukti. Katanya, “Sekelompok orang yang diprovokasi atau dibayar oleh musuh berada di belakang para pedagang dan pemilik toko, meneriakkan slogan-slogan melawan Islam, Iran, dan Republik Islam.”

Pernyataan itu ditafsirkan banyak kalangan sebagai lampu hijau bagi aparat keamanan termasuk Garda Revolusi dan paramiliter Basij untuk bertindak lebih tegas.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian justru meminta pendekatan yang lebih persuasif. Ia menyerukan agar aparat menanggapi demonstran secara “ramah dan bertanggung jawab”. “Masyarakat tidak dapat diyakinkan atau ditenangkan dengan pendekatan yang memaksa,” tegasnya.


Halaman:

Komentar