Gelombang protes yang mengguncang Iran sudah berjalan lebih dari seminggu. Situasinya makin tegang. Menurut laporan dari beberapa kelompok HAM yang dikutip Reuters, korban jiwa terus berjatuhan sedikitnya 16 orang tewas. Human Rights Activists News Agency (HRANA) mencatat angka serupa sejak demonstrasi pecah. Sementara itu, kelompok hak asasi Hengaw bahkan menyebut angka kematian akibat bentrokan mencapai 17 orang.
Penangkapan massal juga terjadi. Lebih dari 580 orang dilaporkan diamankan aparat dalam operasi penertiban yang digelar di berbagai wilayah.
Semua ini berawal dari kekecewaan publik yang meledak. Inflasi yang meroket, nilai tukar rial yang anjlok, ditambah kondisi ekonomi yang kian sulit benar-benar memukul daya beli masyarakat. Awalnya, unjuk rasa ini bersifat lokal. Tapi api kemarahan itu dengan cepat menjalar. Kini, aksi protes sudah menyebar ke berbagai kota besar, termasuk Teheran, sejumlah wilayah di Iran barat, dan provinsi Baluchistan Selatan.
Yang menarik, penggerak awalnya justru para pedagang di kawasan bazar sektor yang selama puluhan tahun jadi penopang ekonomi tradisional Iran. Pemicunya adalah keputusan pemerintah menutup lembaga publik untuk menghemat bahan bakar. Gerakan para pedagang itu kemudian seperti gayung bersambut. Mahasiswa, pekerja, dan kelompok masyarakat lain pun turun ke jalan.
Menurut data HRANA, demonstrasi telah terjadi di lebih dari 170 lokasi, tersebar di 25 dari total 31 provinsi di Iran. Angka itu menunjukkan betapa luasnya gelombang ketidakpuasan ini.
Para pengamat melihat, skala geografis yang sedemikian luas memang mencerminkan tingkat ketidakpuasan yang mendalam, meski intensitas dan jumlah massa di tiap daerah bisa berbeda-beda. Gelombang protes kali ini disebut-sebut sebagai yang terbesar sejak 2022, ketika kematian Mahsa Amini perempuan 22 tahun yang meninggal dalam tahanan polisi moral memicu demonstrasi nasional berbulan-bulan.
Namun begitu, banyak aktivis dan analis berpendapat bahwa aksi sekarang belum mencapai tingkat mobilisasi dan eskalasi seperti dua tahun lalu. Tapi, fakta bahwa demonstrasi meluas ke banyak provinsi, ditambah korban jiwa dan penangkapan yang terus bertambah, menandakan potensi ketegangan yang masih bisa membesar. Apalagi kondisi ekonomi Iran makin buruk, sementara ruang dialog antara pemerintah dan rakyat terasa kian sempit.
Khamenei Akhirnya Bicara
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, baru pada Sabtu lalu menyampaikan pernyataan publik pertamanya terkait gelombang protes ini. Dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah, ia membuat pembedaan yang jelas.
“Kami berbicara dengan para demonstran, para pejabat juga harus berbicara dengan mereka,” kata Khamenei.
“Namun tidak ada manfaatnya berbicara dengan para perusuh. Para perusuh harus diberi pelajaran.”
Khamenei juga kembali menuding keterlibatan pihak asing, meski tanpa menyertakan bukti. Katanya, “Sekelompok orang yang diprovokasi atau dibayar oleh musuh berada di belakang para pedagang dan pemilik toko, meneriakkan slogan-slogan melawan Islam, Iran, dan Republik Islam.”
Pernyataan itu ditafsirkan banyak kalangan sebagai lampu hijau bagi aparat keamanan termasuk Garda Revolusi dan paramiliter Basij untuk bertindak lebih tegas.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian justru meminta pendekatan yang lebih persuasif. Ia menyerukan agar aparat menanggapi demonstran secara “ramah dan bertanggung jawab”. “Masyarakat tidak dapat diyakinkan atau ditenangkan dengan pendekatan yang memaksa,” tegasnya.
Bentrokan dan Korban Terus Berlanjut
Laporan kekerasan terus mengalir dari berbagai daerah. Di kota Qom, yang dikenal sebagai pusat konservatif dan pendidikan Syiah, dua orang dilaporkan tewas. Salah satunya disebut akibat ledakan granat rakitan yang, menurut otoritas keamanan, sedang dibawa untuk menyerang warga. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan kobaran api di beberapa ruas jalan.
Sementara di kota Harsin, Provinsi Kermanshah, seorang anggota Basij dilaporkan tewas akibat serangan senjata api dan pisau. Media pemerintah juga memberitakan insiden kekerasan di Kabupaten Malekshahi, Provinsi Ilam, meski tanpa rincian yang lengkap.
Kelompok Hengaw dan Iran Human Rights secara terbuka menuduh aparat keamanan Iran menembaki para demonstran. Tuduhan ini dibantah media semiresmi Fars, yang mengklaim tanpa bukti bahwa sebagian demonstran membawa senjata api dan granat.
Trump Ikut Bersuara
Ketegangan makin meruncing setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Iran agar tidak menggunakan kekerasan terhadap demonstran damai. Trump menegaskan, jika Teheran “membunuh demonstran damai secara brutal”, maka Amerika Serikat “akan datang untuk menyelamatkan mereka”.
Peringatan itu, meski tidak merinci bentuk intervensi apa yang dimaksud, langsung memicu reaksi keras dari Teheran. Sejumlah pejabat Iran membalas dengan ancaman balasan, termasuk menargetkan pasukan AS yang berada di kawasan Timur Tengah.
Di tengah meningkatnya ketegangan politik dan keamanan ini, Iran juga menyatakan telah menghentikan pengayaan uranium di seluruh fasilitas nuklirnya. Langkah ini dilihat sebagai sinyal keterbukaan untuk kemungkinan negosiasi dengan Barat.
Tapi hingga kini, pembicaraan itu belum terwujud. Malah, Trump bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali memperingatkan Teheran agar tidak menghidupkan kembali program nuklirnya.
Sementara itu, lembaga konsultan risiko politik Eurasia Group punya analisis sendiri. Mereka menilai gelombang protes di Iran ini tidak digerakkan oleh kekuatan oposisi yang terorganisir.
“Iran tidak memiliki oposisi domestik yang terorganisir; para demonstran kemungkinan besar bergerak secara spontan,”
Meski begitu, kelompok tersebut menilai rezim Iran masih punya satu keunggulan: aparat keamanan yang besar dan solid. Itu yang memungkinkan pemerintah menekan aksi protes tanpa kehilangan kendali atas negara.
Editor: Rizki Nugraha
Artikel Terkait
PRIMA Serukan Kemenangan Pancasila Lewat Revolusi Ekonomi Kerakyatan di Hari Lahir ke-5 Partai
Misteri Sosok Pak Haji, Dermawan Tengah Malam yang Rutin Bagikan Uang ke Tuna Wisma Jakarta
Wakil Ketua MPR: Pancasila Harus Jadi Kompas Kebijakan di Tengah Ancaman Ekonomi Global
Proyek Galian PDAM di TB Simatupang Picu Kemacetan Panjang hingga Pasar Rebo