VIVA Apotek, atau secara resmi PT Sumber Hidup Sehat, baru saja melakukan langkah besar. Perusahaan ini mengakuisisi penuh saham Farmaku, jaringan apotek yang cukup dikenal. Semua sahamnya, seratus persen, kini beralih tangan. Ini jelas sebuah langkah strategis untuk memperkuat cengkeramannya di pasar ritel farmasi tanah air.
Haryanto Winata, sang Direktur Utama, menjelaskan maksud di balik aksi korporasi ini. Targetnya ganda: memperluas jaringan sekaligus merampingkan operasi. Caranya? Lewat integrasi sistem distribusi dan pengadaan yang dimiliki kedua belah pihak.
“Akuisisi Farmaku menjadi langkah strategis untuk memperkuat jaringan VIVA Apotek serta mendorong efisiensi operasional melalui integrasi distribusi dan teknologi. Kami melihat potensi sinergi yang kuat untuk mempercepat ekspansi dan memperluas akses layanan farmasi modern bagi masyarakat,”
Ucap Haryanto dalam pernyataan resminya, Jumat lalu. Menurutnya, ada potensi pertumbuhan yang menjanjikan di segmen menengah ke atas. Nah, akuisisi ini juga diarahkan untuk menyasar segmen itu dengan lebih kuat.
Di sisi lain, Iswandi Simardjo, pucuk pimpinan Farmaku, menyambut baik bergabungnya perusahaan mereka ke dalam VIVA Apotek. Baginya, ini adalah momen penting yang membuka lebih banyak peluang.
“Menjadi bagian dari VIVA Apotek merupakan tonggak strategis bagi Farmaku. Perpaduan inovasi teknologi dan layanan digital Farmaku dengan kekuatan infrastruktur ritel VIVA Apotek akan menciptakan ekosistem omnichannel kesehatan yang terintegrasi dan mudah diakses masyarakat,”
Katanya. Memang, jika dilihat dari angka, sinerginya terlihat jelas. VIVA Apotek sebelumnya sudah mengoperasikan 115 gerai di 44 wilayah. Dengan tambahan 10 gerai Farmaku, totalnya menjadi 125 gerai. Jaringan mereka pun jadi lebih rapat.
Perlu dicatat, Farmaku sendiri bukan pemain kecil. Sepuluh gerainya itu mampu menghasilkan penjualan tahunan sekitar Rp110 miliar. Angka yang cukup signifikan.
Ke depannya, rencananya adalah menciptakan strategi omnichannel yang mulus. Maksudnya, toko fisik dan platform digital akan diintegrasikan. Mereka bahkan mengandalkan layanan WhatsApp Commerce agar pelanggan bisa terhubung langsung dengan apotek secara real-time. Jadi, bukan sekadar ekspansi fisik, tapi juga penguatan di ranah digital.
Pada akhirnya, langkah ini adalah tentang konsolidasi. Memperbesar skala, meraih efisiensi, dan tentu saja, bersaing lebih ketat di industri kesehatan yang terus bergerak dinamis.
Artikel Terkait
Belasan IKM Binaan Kemenperin Masuk Rantai Pasok Perlengkapan Haji 2026
Negosiasi Impor LPG dari Rusia Masih Alot di Tengah Lonjakan Kebutuhan Nasional
Prabowo Terbitkan Tiga Aturan Baru untuk Perkuat Ketahanan Pangan
Mendikti Siapkan Sinergi Nasional Tangani Kekerasan Seksual di Kampus