Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi USD437,9 Miliar di Februari 2026, Didorong Sektor Publik

- Rabu, 15 April 2026 | 15:50 WIB
Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi USD437,9 Miliar di Februari 2026, Didorong Sektor Publik

Lalu, bagaimana dengan sektor swasta? Di tengah kenaikan di sektor publik, justru posisi ULN swasta menyusut. Angkanya tercatat USD193,7 miliar, turun 0,7 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi baik pada kelompok lembaga keuangan (turun 2,8% yoy) maupun perusahaan non-keuangan (turun 0,2% yoy).

Mayoritas utang swasta ini masih berkutat di sektor-sektor inti: Industri Pengolahan, Jasa Keuangan dan Asuransi, Pengadaan Listrik dan Gas, serta Pertambangan. Keempatnya menyumbang lebih dari 80% total ULN swasta. Sekitar 76% dari utang swasta ini juga berjangka panjang.

Meski ada kenaikan, BI memastikan struktur utang luar negeri Indonesia secara keseluruhan masih dalam kondisi sehat. Prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya dianggap tetap terjaga. Ini tercermin dari rasio ULN terhadap PDB yang relatif terjaga di angka 29,8 persen. Selain itu, dominasi utang jangka panjang secara agregat juga masih sangat kuat, mencapai 84,9 persen dari total.

Anton Pitono menegaskan bahwa koordinasi antara BI dan Pemerintah akan terus diperkuat untuk memantau perkembangan ini.

Intinya, utang dilihat sebagai alat pembiayaan pembangunan. Tujuannya jelas: mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, tapi dengan risiko yang terus dikelola agar tidak menggoyang stabilitas makroekonomi yang sudah terbangun. Laporan ini ditutup dengan optimisme yang tetap waspada.

Editor: Handoko Prasetyo


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar