Puan Maharani: Lonjakan Harga Plastik Momentum Beralih ke Kemasan Daun

- Rabu, 15 April 2026 | 19:15 WIB
Puan Maharani: Lonjakan Harga Plastik Momentum Beralih ke Kemasan Daun

Harga plastik melonjak tajam, bahkan ada yang sampai 80 persen. Di tengah situasi sulit ini, Ketua DPR RI Puan Maharani justru melihat sebuah peluang. Menurutnya, momen ini bisa jadi pendorong untuk beralih ke kemasan alami, seperti daun pisang atau daun jati yang merupakan kearifan lokal.

"Kita tahu plastik itu praktis, tapi beban ekologinya sangat tinggi," kata Puan dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).

"Maka kenaikan harga plastik bisa menjadi momentum untuk kita beralih ke ekonomi hijau."

Lonjakan harga ini, seperti banyak yang sudah merasakan, dipicu konflik geopolitik global yang mengacaukan rantai pasok. Situasinya makin berat karena industri dalam negeri masih bergantung 60 persen pada bahan baku impor. Para pelaku UMKM, terutama di sektor makanan dan minuman, yang paling merasakan dampaknya.

"Bayangkan, harga melonjak berkali-kali lipat, pasokan sulit. Pelaku usaha kecil yang keuntungannya sudah pas-pasan pasti semakin kesulitan," paparnya.

Di sisi lain, Puan mengajak kita melihat ke sekitar. Sebenarnya, solusi itu sudah ada di depan mata. Di Jawa Tengah, misalnya, tradisi membungkus dengan daun sudah berlangsung lama. Nasi liwet, gudeg, hingga mi lethek disajikan dengan cara yang ramah lingkungan itu.

Bahkan untuk lontong atau lemper, daun pisang bukan sekadar bungkus. Ia membuat makanan lebih awet dan aromanya khas. "Dulu, nenek moyang kita sudah pakai alternatif ini sebagai hal utama," tutur Puan.

Menurutnya, kemasan organik punya nilai lebih. Selain menekan biaya produksi di tengah mahalnya bahan baku impor, ia bisa mendongkrak nilai jual.

"Dengan memakai kemasan dari bahan organik, pelaku usaha tak hanya bisa menghindari tekanan ekonomi, tapi juga menambah nilai jual," ungkapnya.

"Keunikannya bisa jadi daya tarik sendiri bagi banyak orang."

Isu ini juga berkait erat dengan persoalan global. Puan menyebut data UNEP yang mencengangkan: setiap hari, sampah plastik setara 2.000 truk dibuang ke perairan. Tiap tahun, polusinya mencapai 19 hingga 23 juta ton.

"Jadi semangatnya gini," ujar Puan menjelaskan, "selagi harga plastik sedang tinggi, kita cari alternatif lain. Sekaligus bisa mengurangi sampah."

Namun begitu, dia mengakui perubahan kebiasaan tidak bisa instan. Langkah kecil dari hal sederhana bisa jadi awal.

"Mungkin dimulai dari rumah makan. Kalau makan di tempat, jangan pakai wadah plastik sekali pakai," sarannya.

Peran pemerintah, tegas Puan, sangat krusial dalam transisi ini. Mulai dari regulasi, sistem pendukung, sampai sosialisasi yang gencar.

"Masyarakat akan menyesuaikan kebiasaan. Kalau sistemnya mendukung, saya yakin bahan organik bisa menggantikan plastik sekali pakai," ucapnya.

Untuk itu, dia mendorong kolaborasi antar kementerian Lingkungan Hidup, Pertanian, Perdagangan, hingga Ekonomi Kreatif untuk bersama-sama mencari solusi kemasan alternatif.

"Pemerintah perlu memberi dukungan dan memfasilitasi kebutuhan masyarakat. Kami di DPR akan ikut mengawasi sesuai tugas kami," tutup Puan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar