Menariknya, Ikatan Darah tidak bergantung pada senjata api. Fokusnya justru pada pertarungan tangan kosong dan senjata tajam yang akrab dengan keseharian kita. Celurit, golok, dan sejenisnya.
"Saya sedang menerjemahkan sesuatu yang berhubungan dengan lokalitas Indonesia. Dari pengalaman empiris saya, senjata tajam dengan berbagai bentuk alat seperti celurit dan golok itulah yang dekat," ungkap Tata.
Budaya Indonesia, baginya, adalah jiwa. "Rekam jejak film saya selalu tak lepas dari kultur Indonesia yang sangat Indonesia sekali. Lokalitas itu yang saya manfaatkan, termasuk di Ikatan Darah," lanjut sutradara tersebut.
Tak cuma aksi, film ini dibangun dengan set yang realistis. Perkampungan padat dan gang sempit dirancang matang untuk mendukung suasana cerita. Beberapa adegan bahkan melibatkan ratusan figuran untuk menciptakan skala yang epik.
Detail produksi yang kuat ini rupanya sudah diakui. Film ini sempat menyabet penghargaan Best Production Design di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF20).
Sebelum tayang di dalam negeri, Ikatan Darah telah melakukan world premiere di Fantastic Fest 2025. Dan bagi penonton Indonesia, film ini bisa disaksikan di bioskop mulai 30 April 2026.
(Maiza Jasmine A.R)
ELG
Artikel Terkait
Wall Street Catat Laba Kuartal I 2026 yang Kuat, CEO Tetap Waspadai Risiko Global
Indonesia-AS Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan Jadi Major Defense Partnership
BMKG Peringatkan Potensi Banjir Rob di 18 Wilayah Pesisir hingga Akhir April
Trump Klaim Perang dengan Iran Hampir Berakhir Meski Negosiasi Masih Alot