Delapan Suku di Indonesia Pilih Bertahan dengan Tradisi, Tolak Dunia Modern

- Rabu, 15 April 2026 | 11:15 WIB
Delapan Suku di Indonesia Pilih Bertahan dengan Tradisi, Tolak Dunia Modern

Jakarta mungkin bergerak cepat dengan dering ponsel dan deru lalu lintas, tetapi jauh dari ibu kota, ceritanya sama sekali berbeda. Di sudut-sudut tersembunyi Nusantara, ada komunitas yang hidupnya berjalan dengan irama yang lain. Mereka bukan cuma tertinggal; banyak yang sengaja menjauh, memilih untuk tetap setia pada cara hidup nenek moyang mereka di tengah hutan dan lembah.

Delapan Suku Pedalaman yang Menolak Dunia Modern

Bagi mereka, kemajuan teknologi bukanlah kemewahan, melainkan ancaman terhadap identitas. Hidup bergantung sepenuhnya pada alam, interaksi dengan dunia luar sengaja dibatasi atau bahkan ditolak. Inilah sekelompok masyarakat yang masih bertahan dengan tradisi, jauh dari sentuhan listrik dan internet.

1. Suku Baduy Dalam (Banten)

Mungkin yang paling terkenal. Komunitas Baduy Dalam di Banten ini memang keras pendiriannya. Listrik? Tidak ada. Kendaraan? Dilarang. Mereka berjalan kaki kemana-mana, mengenakan pakaian putih khas, dan hidup mengikuti aturan adat yang ketat. Harmoni dengan alam adalah segalanya.

2. Suku Mante (Aceh)

Kalau Baduy terkenal, Mante justru misterius. Hidupnya tersembunyi di pedalaman hutan Aceh, keberadaan mereka kadang seperti kabar burung. Banyak yang menganggapnya legenda. Namun, beberapa kesaksian menyebutkan bertemu dengan kelompok manusia berpostur kecil, lincah, dan menghilang begitu saja di balik pepohonan.

3. Suku Samin (Jawa Tengah & Timur)

Ajaran Samin Surosentiko dari era kolonial masih hidup di sini, terutama di sekitar Blora dan Bojonegoro. Prinsipnya sederhana: jujur, menolak kapitalisme, dan hidup bersahaja. Anda bisa mengenali mereka dari pakaian serba hitam. Uniknya, kaum pria di sini punya larangan memakai celana panjang.

4. Suku Togutil (Maluku Utara)

Mendiami hutan Halmahera, hidup Suku Togutil sangat bergantung pada berburu dan meramu. Sayangnya, ketenangan mereka terusik. Aktivitas pertambangan disebut-sebut mengancam tempat tinggal mereka. Oh ya, mereka sendiri sebenarnya tak suka disebut "Togutil" karena konotasinya yang dianggap merendahkan.

5. Suku Korowai (Papua)

Ini dia ahli arsitektur alam. Suku Korowai terkenal dengan rumah pohonnya yang dibangun tinggi, kadang sampai 50 meter di atas tanah! Bayangkan. Mereka tinggal di pedalaman Papua yang masih sangat terisolasi, menjaga tradisi yang mungkin sudah berusia ribuan tahun.

6. Suku Kajang (Sulawesi Selatan)

Terutama kelompok Kajang Dalam di Bulukumba. Komunitas ini tertutup dan teguh memegang adat. Warna hitam mendominasi pakaian mereka, simbol kesederhanaan dan kesetaraan. Meski perlahan ada yang mulai membuka diri, inti kehidupannya tetap dijaga ketat.

7. Suku Polahi (Gorontalo)

Hidup di hutan Boliyohuto, Gorontalo, Suku Polahi bertahan dengan berburu dan berkebun sederhana. Kehidupan mereka begitu dasar. Konon, mereka bahkan tidak mengenal kalender atau agama formal dalam pengertian umum. Hidup mengalir begitu saja mengikuti alam.

8. Suku Anak Dalam (Jambi)

Juga dikenal sebagai Suku Kubu. Mereka hidup nomaden, berpindah-pindah di dalam hutan Jambi. Alam adalah pasar, apotek, dan rumah ibadah mereka sekaligus. Kepercayaan animisme masih kuat, dan setiap perubahan di hutan dirasakan langsung dalam denyut nadi kehidupan sehari-hari.

Jadi, di tengah gempuran globalisasi yang seolah tak terbendung, kelompok-kelompok ini tetap berdiri. Mereka adalah pengingat nyata bahwa kemajuan punya banyak wajah. Bagi mereka, bertahan pada tradisi adalah bentuk kemajuan itu sendiri sebuah pilihan untuk menjaga warisan yang tak ternilai.

(Daffa Yazid Fadhlan)

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar