Acara penyambutannya sendiri berlangsung khidmat. Pasukan kehormatan atau Guard of Honor berdiri tegak, memberikan penghormatan militer tertinggi. Ritual ini bukan cuma formalitas, tapi simbol persahabatan yang dijaga kedua negara.
Setelah saling berjabat tangan dan berbincang singkat di pelataran, kedua pemimpin itu lalu masuk ke dalam. Mereka menuju Les Salon des Portraits – ruang yang penuh dengan potret sejarah – untuk mengadakan pertemuan empat mata. Di sanalah pembahasan inti berlangsung, jauh dari keramaian dan sorotan kamera.
Pertemuan tête-à-tête itu jelas jadi momen strategis. Selain memperkuat kerja sama bilateral di sektor-sektor prioritas, Prabowo dan Macron juga punya kesempatan bertukar pikiran soal isu-isu global yang sedang panas. Dinamika dunia saat ini kan cepat sekali berubah.
Agenda kemudian dilanjutkan dengan jamuan makan siang resmi. Momen seperti ini seringkali justru lebih produktif. Diplomasi tingkat tinggi tak melulu soal meja perundingan; obrolan santai sambil menikmati hidangan Prancis bisa mempererat hubungan personal. Dan hubungan personal yang baik, pada akhirnya, memperkuat fondasi kemitraan kedua negara untuk tahun-tahun mendatang.
Artikel Terkait
CEO TotalEnergies Usulkan Sistem Tol di Selat Hormuz untuk Jaga Pasokan Global
Wall Street Catat Laba Kuartal I 2026 yang Kuat, CEO Tetap Waspadai Risiko Global
Indonesia-AS Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan Jadi Major Defense Partnership
BMKG Peringatkan Potensi Banjir Rob di 18 Wilayah Pesisir hingga Akhir April