Di sisi lain, ada juga aturan khusus untuk industri yang ikut program insentif dari Perpres tersebut. Mereka diarahkan untuk memenuhi 40 persen peningkatan TKDN dari proses perakitan produk impor yang dilakukan di dalam negeri. Ini seperti dua sisi mata uang yang saling mendukung.
Menurut Agus, langkah ini bukan sekadar formalitas. Penguatan TKDN sangat penting untuk mendongkrak daya saing industri lokal di pentas dunia. Tujuannya, agar nilai tambah yang dirasakan perekonomian nasional bisa benar-benar optimal.
Dia juga menilai, pengembangan kendaraan listrik baik roda dua, tiga, maupun empat adalah prioritas strategis. Alasannya sederhana: efek penggandanya besar sekali. Dari menarik investasi, membuka lapangan kerja baru, sampai mendorong kemandirian industri nasional. Karena itulah, pemerintah akan terus memacu kebijakan yang bisa mempercepat peningkatan kandungan lokal sekaligus transfer teknologi.
Data dari Kemenperin sepertinya mendukung optimisme itu. Beberapa indikator di sektor otomotif listrik menunjukkan tren yang prospektif. Penjualan domestik stabil, ekspor terus bertumbuh, dan adopsi kendaraan listrik oleh masyarakat makin meluas. Semua sinyal ini mengisyaratkan satu hal: prospek sektor ini ke depan terbilang cerah.
Artikel Terkait
Gus Ipul: Wacana Penebalan Bansos 2026 Masih Tahap Pembahasan, Tunggu Keputusan Presiden
AS Pertimbangkan Serangan Terbatas atau Blokade Maritim ke Iran
Bansos Tahap II 2026 Dijadwalkan Cair April, Menjangkau 18 Juta KPM
Bank Woori Saudara Optimalkan Strategi Pendanaan dan Kredit untuk Jaga Margin