Bank Woori Saudara Optimalkan Strategi Pendanaan dan Kredit untuk Jaga Margin

- Senin, 13 April 2026 | 12:15 WIB
Bank Woori Saudara Optimalkan Strategi Pendanaan dan Kredit untuk Jaga Margin

Industri perbankan nasional lagi-lagi harus jaga keseimbangan di tengah situasi yang nggak mudah. Suku bunga masih fluktuatif, sementara tekanan biaya dana belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Ini jelas jadi tantangan serius buat mempertahankan margin keuntungan.

Persoalannya kompleks. Likuiditas yang ketat, ditambah persaingan ketat dalam menghimpun dana dari masyarakat, bikin biaya dana tetap tinggi. Akibatnya, ruang untuk ekspansi margin jadi terbatas. Bank pun dituntut untuk lebih cermat lagi, baik dalam mengelola sumber pendanaan maupun saat menyalurkan kredit.

Menurut Rizal Rafly, analis dari Ajaib Sekuritas, tekanan terhadap net interest margin (NIM) ini memang sedang dialami hampir seluruh industri perbankan.

“Dalam situasi suku bunga yang cenderung tinggi dan sticky, bank harus pintar menjaga keseimbangan antara cost of fund dan yield kredit. Kalau tidak dikelola dengan baik, margin bisa tergerus,” katanya.

Rafly bilang, strategi yang umum diambil biasanya dengan memperbanyak porsi dana murah dan memperketat seleksi kredit.

“Bank yang mampu mengoptimalkan CASA dan menjaga kualitas aset biasanya lebih resilient dalam menjaga NIM di tengah volatilitas suku bunga,” tambahnya.

Nah, dalam kondisi seperti ini, PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) atau BWS punya langkah sendiri. Mereka mengoptimalkan strategi pengelolaan biaya dana dan penyaluran kredit demi menjaga margin tetap solid.

Fokusnya ada pada penguatan struktur pendanaan yang lebih efisien. Caranya? Antara lain dengan meningkatkan porsi dana murah dan mengendalikan biaya bunga secara disiplin. Di sisi lain, dari segi aset, bank ini mengedepankan penyaluran kredit yang benar-benar selektif dan berkualitas. Tujuannya sederhana: imbal hasil bisa optimal, tapi risikonya tetap terkendali. Strategi ini jadi fondasi penting untuk menyeimbangkan antara pertumbuhan bisnis dan profitabilitas.

Data per Januari 2026 menunjukkan, BWS yang merupakan anak usaha Woori Bank Korea telah menyalurkan kredit senilai Rp42,38 triliun. Sementara liabilitasnya tercatat Rp47 triliun, dengan dana pihak ketiga (DPK) mendominasi di angka Rp35,47 triliun. Sebagian likuiditasnya juga ditempatkan di instrumen keuangan seperti surat berharga dan penempatan di Bank Indonesia.

Menurut Rafly, langkah-langkah BWS ini sejalan dengan praktik terbaik di industri.

“Pendekatan yang dilakukan BWS cukup tepat, terutama dengan fokus pada efisiensi funding dan kualitas kredit. Ini penting untuk menjaga stabilitas margin di tengah tekanan biaya dana,” tuturnya.

Meski begitu, Rafly punya catatan. Di saat yang sama, BWS perlu terus memperkuat fungsi intermediasinya.

“Strategi ini tidak hanya menjaga kinerja margin, tetapi juga memastikan ekspansi bisnis tetap berada dalam koridor risiko yang sehat,” ujarnya.

Jadi, intinya, di tengah dinamika yang serba tidak pasti ini, ketelitian dan strategi pengelolaan yang prudent menjadi kunci. Bukan cuma untuk bertahan, tapi juga untuk tumbuh dengan sehat.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar