Ancaman terbaru Donald Trump terhadap Iran terdengar keras dan gamblang: "penghancuran total". Kalimat itu ia lontarkan, konon, sebagai senjata tekanan menjelang negosiasi rumit di Pakistan. Tapi apa sebenarnya yang ia maksud dengan frasa mengerikan itu? Bukan sekadar retorika kosong, menurut sejumlah pengamat.
Teuku Rezasyah, seorang pakar hubungan internasional, punya pandangan yang cukup suram. Ia melihat pola yang berulang. Menurutnya, Trump kemungkinan besar akan mengulangi apa yang pernah AS lakukan di Irak dulu.
"AS berpotensi mempraktikkan kembali 'Carpet Bombing'," ujar Rezasyah kepada wartawan, Minggu lalu.
Ia melanjutkan, serangan semacam itu tak akan pandang bulu. "Dalam serangan barunya nanti, AS akan menyerang semua fasilitas sipil dan militer, yang dianggapnya penting," katanya.
Lantas, bagaimana dengan perundingan itu sendiri? Peluang gagalnya, kata Rezasyah, justru bisa datang dari sekutu AS sendiri. Israel, misalnya, yang mungkin merasa diabaikan karena AS memilih jalur dialog sepihak dengan Tehran. Situasi ini bisa memicu ulah yang memicu kegagalan.
Belum lagi kondisi domestik Trump sendiri. "Perundingan kali ini juga pelik," tambah Rezasyah.
Ia menduga ancaman pemakzulan yang dihadapinya bisa menjadi variabel tak terduga. Presiden yang terdesak berpotensi mengubah atau bahkan menggagalkan kesepakatan yang sedang berproses, hanya untuk menunjukkan kekuatan. Semuanya jadi makin tidak pasti.
Artikel Terkait
Polisi Gagalkan Peredaran Ganja saat Patroli Libur Idul Adha di Tangerang
Polisi Sita 30 Cartridge Vape Berisi Narkotika Jenis Baru di Cengkareng, Satu Kurir Dibekuk
Jadwal Salat Surabaya Jumat 29 Mei 2025: Imsak Pukul 04.03 WIB, Zuhur 11.28 WIB
Relawan Indonesia Herman Budianto Ungkap Penyiksaan Brutal Tentara Israel saat Bajak Kapal Bantuan Gaza