Suara kecaman datang dari anggota DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, atau yang akrab disapa Bang Kent. Ia menyoroti aksi pemalakan yang menimpa sopir bajaj di Tanah Abang. Yang bikin geram, nilai pungutannya tak tanggung-tanggung: seratus ribu rupiah per sopir.
Menurutnya, praktik semacam ini sangat menyengsarakan. Para pengemudi kecil ini hidup dari penghasilan harian yang tak seberapa. Di sisi lain, kejadian ini seperti mencoreng wajah upaya penataan kawasan yang sudah dilakukan pemerintah selama ini.
"Ini jelas merugikan rakyat kecil dan tidak boleh dibiarkan," ujar Kent.
Ia melanjutkan, "Tanah Abang adalah kawasan strategis, sehingga harus bebas dari praktik-praktik tidak terpuji seperti ini." Pernyataan itu disampaikannya pada Senin (13/4/2026).
Kent punya analisis sendiri soal akar masalahnya. Menurut dia, sistem parkir yang belum tertata dengan baik dan transparan jadi salah satu pemicu utama. Solusinya? Ia mendorong penerapan sistem parkir resmi berbasis non-tunai atau cashless di seluruh titik strategis Jakarta, termasuk tentu saja Tanah Abang.
Dengan sistem cashless, semua transaksi akan terekam digital. Alhasil, ruang gerak oknum nakal untuk memalak atau mengelola parkir liar bisa dipersempit.
"Kalau kita sudah menggunakan sistem parkir resmi yang cashless, semuanya akan lebih mudah dikontrol dan dipilah," jelas anggota Komisi C ini.
"Mana yang benar-benar resmi, mana yang liar, itu bisa langsung terlihat. Tidak ada lagi alasan untuk menarik uang secara sembarangan."
Ia juga menyoroti kebiasaan transaksi tunai di lapangan yang menurutnya rentan disalahgunakan. "Kalau masih pakai uang cash, ya sulit membedakan. Siapa saja bisa mengaku sebagai petugas," tegas Kent, yang juga menjabat Ketua IKAL PPRA Angkatan LXII itu.
Artikel Terkait
Dekan FH UI Buka Suara Soal Percakapan Diduga Melecehkan Perempuan
DPR Kumpulkan Masukan untuk Revisi UU Peternakan dan Kesehatan Hewan
Paus Leo XIV Tanggapi Kritik Trump dengan Sikap Tenang dan Seruan Damai
95 Tewas dalam Tiga Hari Pertama Perayaan Songkran di Thailand