"Ini pemerasan," tegasnya. "Dan para pemimpin negara, khususnya AS, nggak akan mau diperas."
Dia mendesak semua kapal untuk tidak membayar pungutan ilegal itu. Selat Hormuz, dalam pandangannya, adalah perairan internasional yang harus bisa dilalui secara bebas. Kebijakan Iran menaruh ranjau dan berencana memungut biaya, menurut Trump, hanya menimbulkan kecemasan dan merusak reputasi negara itu sendiri.
Nuansa ancaman juga terasa dalam pernyataannya. Trump menyebut Iran sudah "habis", baik dari sisi kepemimpinan maupun kekuatan militernya. Dia memberi sinyal bahwa AS siap bertempur lagi jika diperlukan, untuk "menghabisi sisa-sisa" dari Iran.
Jadi, setelah pembicaraan panjang, kedua negara kembali ke posisi awal yang saling berhadapan. Ambisi nuklir Iran dan kontrol atas Selat Hormuz tetap jadi garis merah yang tak bisa ditembus setidaknya untuk saat ini.
Artikel Terkait
Korea Utara Uji Coba Senjata Elektromagnetik dan Bom Serat Karbon dalam Ketegangan dengan Seoul
Timnas U-17 Hadapi Timor Leste di Pembuka Piala AFF, Tekanan Tinggi Usai Catatan Buruk
KAI Daop 1 Jakarta Tegas Akan Tindak Pelaku Buang Sampah Sembarangan di Stasiun
Kebijakan WFH ASN Turunkan Jumlah Penumpang LRT Jabodebek 10 Persen