Dari kampus Paramadina di Jakarta Timur, suara Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, terdengar tegas. Saat ditemui pada Sabtu lalu, ia menyampaikan pesan yang jelas: perdamaian di Timur Tengah hanya bisa terwujud dengan satu syarat mutlak. Syarat itu adalah gencatan senjata yang berlaku menyeluruh, mencakup seluruh kawasan. Tanpa itu, kata Boroujerdi, jangan harap ada perdamaian.
Menurutnya, pihaknya sudah mengajukan usulan gencatan senjata itu sebagai bentuk niat baik. Meski tanpa didasari kepercayaan penuh, usulan itu diajukan. Bukan cuma untuk Iran, tapi untuk semua wilayah yang bergejolak.
“Kemudian mengusulkan bahwa gencatan senjata tidak hanya terjadi di Iran, namun gencatan senjata melingkupi atau mencakup di kawasan. Dan itu usulan yang kita sampaikan,”
jelas Boroujerdi.
Logikanya sederhana: agar perang benar-benar berhenti, ia harus dihentikan di mana-mana. Bukan cuma di satu titik api. Namun begitu, realitas di lapangan jauh dari harapan. Boroujerdi dengan gamblang menuding Israel sebagai pihak yang kerap merusak kesepakatan.
“Tentunya kita juga menyaksikan bahwa Zionis selalu melanggar aturan-aturan atau kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati. Dan itu tidak sekali dua kali kita lihat,”
tandasnya.
Artikel Terkait
Pedagang Tahu Bulat di Depok Ditangkap Usai Perlihatkan Kelamin ke Pembeli
Polri Bentuk Satgas Haji 2026 Cegah Penipuan yang Rugikan Masyarakat Rp92,64 Miliar
AS Kerahkan Dua Kapal Perang ke Selat Hormuz, Iran Bantah dan Klaim Kendali Penuh
Polri Gagalkan 1.243 Calon Jemaah Haji Ilegal Sepanjang 2025