Ia lalu menyebutkan sederet contoh. Konflik dengan Palestina, Gaza, Lebanon, hingga Yaman. Polanya, katanya, selalu berulang. Kesepakatan dicapai, lalu dilanggar.
“Kita menyaksikan berkali-kali. Dengan Palestina misalnya, dengan Gaza, dengan Lebanon, dengan Yaman, dan bahkan dengan negara-negara tetangganya. Berkali-kali menyepakati gencatan senjata namun mereka, rezim Zionis Israel ini, kemudian melanggarnya,"
imbuhnya, menekankan pola yang ia anggap konsisten.
Di sisi lain, tekanannya tetap pada prinsip utama. Gencatan menyeluruh itu bukan sekadar pilihan, melainkan fondasi. Tanpanya, segala upaya damai akan sia-sia belaka.
“Jika tidak diterima, maka tidak ada perdamaian sama sekali,”
pungkas Boroujerdi, menutup pernyataannya dengan nada yang tak memberi ruang kompromi.
(Febrina Ratna Iskana)
Artikel Terkait
Pedagang Tahu Bulat di Depok Ditangkap Usai Perlihatkan Kelamin ke Pembeli
Polri Bentuk Satgas Haji 2026 Cegah Penipuan yang Rugikan Masyarakat Rp92,64 Miliar
AS Kerahkan Dua Kapal Perang ke Selat Hormuz, Iran Bantah dan Klaim Kendali Penuh
Polri Gagalkan 1.243 Calon Jemaah Haji Ilegal Sepanjang 2025