Di Sumatera Selatan, LRT-nya yang menghubungkan bandara dengan Jakabaring melayani 1,08 juta penumpang, tumbuh 7,38 persen. Sementara itu, Whoosh, kereta cepat Jakarta-Bandung, tetap konsisten dengan 1,4 juta penumpang, meski pertumbuhan persentasenya terlihat lebih landai di 4,07 persen.
Yang menarik justru datang dari timur Indonesia. Layanan KA Makassar–Parepare menunjukkan progres yang fantastis, dengan kenaikan penumpang mencapai 66,45 persen! Dari 45 ribu menjadi lebih dari 75 ribu penumpang. Bagi Anne, ini adalah kabar baik.
“Pertumbuhan ini menjadi sinyal positif bahwa kehadiran layanan kereta api di wilayah timur Indonesia semakin diterima,” tegasnya.
Tak ketinggalan, layanan kereta wisata KAI justru meroket. Kenaikannya lebih dari dua kali lipat, tepatnya 110,1 persen, melayani 78 ribu pelanggan. Rupanya, konsep perjalanan yang menawarkan pengalaman berbeda benar-benar disukai.
Jelas Anne menggambarkan daya tariknya.
Pada akhirnya, semua angka dan pertumbuhan ini bukan sekadar statistik belaka. Bagi Anne, ini adalah bukti nyata bahwa kereta api sudah menyatu dengan denyut nadi kehidupan masyarakat.
Pungkasnya menutup penjelasan.
(Dhera Arizona)
Artikel Terkait
Prancis Resmi Tarik Seluruh Cadangan Emas dari New York ke Paris
Gubernur DKI Siapkan Beasiswa LPDP Khusus untuk Anak Betawi Berprestasi
Madura United Kalahkan Persik Kediri 2-1 dalam Laga Sengit di Gelora Bangkalan
Pemerintah Kaji Usulan Gibran Soal Hakim Ad Hoc untuk Kasus Andrie Yunus