BTN dan KAI Garap Hunian Vertikal Terintegrasi Stasiun di Jakarta

- Jumat, 10 April 2026 | 08:30 WIB
BTN dan KAI Garap Hunian Vertikal Terintegrasi Stasiun di Jakarta

Di tengah persoalan lahan yang makin sempit di kota-kota besar, BTN justru melihat peluang. Bank pelat merah itu baru saja meresmikan kolaborasi dengan PT Kereta Api Indonesia untuk menggarap hunian yang terintegrasi dengan stasiun, atau yang dikenal dengan konsep Transit Oriented Development (TOD).

“Ini yang men-trigger MoU dengan PT KAI,” ujar Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, dalam sebuah pertemuan dengan media di Bandung, Kamis lalu.

Nixon menjelaskan, kerja sama ini adalah langkah nyata pemerintah mencari solusi hunian. Sebagai tahap awal, mereka menargetkan pembangunan setidaknya lima menara apartemen atau rumah susun di lokasi-lokasi strategis.

“Nanti kita coba minimal 5 tower dulu,” katanya.

Fokus proyek perdana ini akan berada di sejumlah stasiun besar Jakarta. Titik-titik seperti Stasiun Senen, Manggarai, dan Tanah Abang jadi prioritas. Tapi rencananya tak berhenti di ibu kota. BTN dan KAI juga berencana mengembangkan model serupa ke kota-kota besar lain di Pulau Jawa.

Menurut Nixon, hunian vertikal sudah menjadi sebuah keharusan. Terutama di Jakarta, di mana jumlah penduduk terus bertambah sementara luas lahan tetap. “Kalau kita maksa rumah tapak terus, lahan produktif dan sawah habis,” tegasnya. Selain soal lahan, pembangunan ke atas juga dinilai bisa melindungi area resapan air dari alih fungsi.

Di sisi lain, faktor kunci kesuksesan proyek semacam ini adalah kedekatan dengan transportasi publik. Hirwandi Gafar, Direktur Consumer Banking BTN, punya pandangan jelas soal ini.

“Kalau lahan itu jauh dari transportasi, dipastikan apartemen atau rusunnya itu sepi. Tapi kalau sudah dekat stasiun KAI, pasti masyarakat akan lebih senang,” ujar Hirwandi.

Masyarakat perkotaan, katanya, cenderung lebih meminati hunian yang menawarkan efisiensi mobilitas dan memangkas waktu perjalanan.

Namun begitu, tantangan tetap ada. BTN mengakui bahwa memasyarakatkan hunian vertikal di Indonesia bukan perkara mudah. Salah satu kendala utamanya adalah preferensi konsumen terhadap ukuran unit.

“Problemnya vertical housing di Indonesia itu tipe studionya terlalu kecil,” kata Nixon, menyentuh salah satu titik kritis yang sering dikeluhkan calon penghuni.

Proyek ambisius antara bank BUMN dan operator kereta api ini, jika berjalan, bisa mengubah wajah permukiman di sekitar stasiun. Tinggal menunggu eksekusi di lapangan.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar