Di sisi lain, faktor kunci kesuksesan proyek semacam ini adalah kedekatan dengan transportasi publik. Hirwandi Gafar, Direktur Consumer Banking BTN, punya pandangan jelas soal ini.
“Kalau lahan itu jauh dari transportasi, dipastikan apartemen atau rusunnya itu sepi. Tapi kalau sudah dekat stasiun KAI, pasti masyarakat akan lebih senang,” ujar Hirwandi.
Masyarakat perkotaan, katanya, cenderung lebih meminati hunian yang menawarkan efisiensi mobilitas dan memangkas waktu perjalanan.
Namun begitu, tantangan tetap ada. BTN mengakui bahwa memasyarakatkan hunian vertikal di Indonesia bukan perkara mudah. Salah satu kendala utamanya adalah preferensi konsumen terhadap ukuran unit.
“Problemnya vertical housing di Indonesia itu tipe studionya terlalu kecil,” kata Nixon, menyentuh salah satu titik kritis yang sering dikeluhkan calon penghuni.
Proyek ambisius antara bank BUMN dan operator kereta api ini, jika berjalan, bisa mengubah wajah permukiman di sekitar stasiun. Tinggal menunggu eksekusi di lapangan.
Artikel Terkait
Survei BI: Keyakinan Konsumen Masih Optimis Meski IKK Maret 2026 Turun Tipis
SpaceX Catat Kerugian Rp85 Triliun di Tengah Persiapan IPO
Pemprov Kalteng Terapkan Sistem Kerja Fleksibel 4 Hari Kantor, 1 Hari WFH bagi ASN
Prabowo Disambut Kawanan Elang Muda TNI AU dalam Penerbangan ke Magelang