Jakarta - Rupiah masih terasa berat. Menurut Josua Pardede, Kepala Ekonom Permata Bank, tekanan terhadap mata uang kita belum benar-benar reda. Penyebab utamanya? Situasi di Timur Tengah yang masih panas dan penuh ketidakpastian.
“Ketegangan meningkat setelah Iran kembali memberlakukan blokade Selat Hormuz, di tengah berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon,” ujarnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Padahal, pagi ini rupiah sempat menunjukkan sedikit senyum. Nilai tukarnya menguat tipis 7 poin ke level Rp17.083 per dolar AS. Tapi, penguatan kecil ini tampaknya cuma sementara.
Josua menjelaskan, mata para pelaku pasar masih tertuju ke konflik yang sedang berlangsung. Gencatan senjata antara AS dan Iran yang baru diumumkan itu terlihat rapuh. Apalagi dengan serangan besar-besaran Israel di Lebanon yang dikabarkan menewaskan ratusan orang. Perundingan damai yang dijadwalkan hari ini di Pakistan pun jadi makin tegang.
Perkembangan terbaru ini bikin khawatir. Negosiasi AS-Iran bisa saja mandek, yang otomatis mendongkrak harga minyak global. Sentimen “risk-off” alias menghindari risiko pun menguat di pasar keuangan.
Di sisi lain, ada juga faktor dari dalam negeri Amerika. Risalah rapat The Fed Maret 2026 menunjukkan perdebatan sengit di antara para pejabat. Sejumlah anggota mulai membuka opsi “dua arah” untuk suku bunga ke depan. Artinya, bisa naik atau turun, tergantung data.
Tapi jangan salah, ancaman kenaikan suku bunga masih nyata. The Fed tetap waspada kalau inflasi bandel dan nggak mau turun ke target. Mayoritas anggota FOMC menilai risiko inflasi tinggi masih mengintai.
Dan konflik Timur Tengah ini memperburuk semua itu.
“Konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga energi yang lebih persisten,” jelas Josua.
“Biaya input yang melambung bisa menekan inflasi inti, situasinya jadi rumit.”
Dengan mempertimbangkan semua faktor tadi, perkiraan untuk rupiah ke depan cukup berhati-hati. Josua memproyeksikan mata uang kita akan bergerak dalam kisaran yang cukup luas, antara Rp17.000 hingga Rp17.125 per dolar AS. Semuanya kembali pada bagaimana ketegangan global ini berkembang dalam beberapa hari ke depan.
Artikel Terkait
Polda Riau Beri Bibit Pohon sebagai Kado Purnatugas, Tanamkan Kepedulian Lingkungan
Jawa Barat Targetkan Kembali Juara Umum Anugerah Adinata Syariah 2026
Ratu Sofya Buka Suara soal Somasi Rumah Produksi: Honor Belum Dibayar
BPJS Ketenagakerjaan dan Jasa Raharja Luncurkan Integrasi Aplikasi untuk Percepat Pelayanan Kecelakaan Kerja di Lalu Lintas