Gelombang krisis di Selat Hormuz pada 2026, menurut sebuah kajian, benar-benar menguji ketangguhan sejumlah Badan Usaha Milik Negara. Tapi dampaknya ternyata tidak merata. Ada yang terpukul, ada pula yang justru mendapat angin segar.
Studi dari BUMN Research Group (BRG) Lembaga Manajemen FEB Universitas Indonesia mengungkap hal itu. Managing Partner BRG, Toto Pranoto, menjelaskan temuan utamanya.
Perusahaan yang paling tertekan adalah mereka yang bergantung pada impor energi, fluktuasi nilai tukar, dan bahan baku dari luar. Ambil contoh Pertamina. Beban impor minyaknya membengkak saat harga global melonjak. PLN juga mendapat tekanan ganda: kontrak pembelian listrik pakai dolar AS, sementara ada kesenjangan antara biaya produksi dan tarif jual.
Sektor transportasi pun tak luput. Garuda Indonesia, misalnya, langsung merasakan bobolnya anggaran operasional gara-gara harga avtur yang meroket.
Namun begitu, di sisi lain, ada kelompok BUMN yang justru diuntungkan. Mereka umumnya bergerak di sektor komoditas ekspor. Perusahaan batu bara seperti Bukit Asam, misalnya, menikmati kenaikan harga energi global. Sektor kelapa sawit pun ikut bersorak, karena biodiesel berbasis CPO jadi lebih kompetitif saat harga minyak mahal. Mereka dapat semacam windfall atau keuntungan tak terduga.
Perusahaan tambang seperti Freeport Indonesia dan holding MIND ID juga diuntungkan oleh kenaikan harga mineral semacam tembaga dan emas.
Artikel Terkait
Tren Film Indonesia Terinspirasi Kisah Nyata, Sorot Cinta hingga Pengkhianatan
Polres Tapin Panen Perdana Jagung dari Lahan Tidur Milik Polri
LCP 2026 Split 2 Dimulai 4 April, Dua Tiket ke MSI Diperebutkan
Kebakaran di Cianjur Hanguskan 12 Rumah, 31 Jiwa Mengungsi