Dia juga optimis. Menurutnya, program ini bakal bawa dampak positif yang lebih luas. Apalagi nanti, seiring beroperasinya proyek kilang RDMP di Balikpapan, Kalimantan Timur.
“Saya juga menyampaikan bahwa dengan implementasi B50, insyaallah tahun ini kita akan mengalami surplus solar. Ini menjadi kabar baik, apalagi setelah RDMP di Kalimantan Timur beroperasi,” tambahnya.
Berdasarkan uji lapangan, B50 ini katanya udah memenuhi semua spesifikasi teknis. Mulai dari kandungan air, stabilitas oksidasi, sampai parameter FAME. Poin ini penting banget buat meyakinkan para pemangku kepentingan. Artinya, secara teknis, B50 siap dipakai, terutama untuk sektor-sektor berat seperti pertambangan yang punya beban kerja tinggi.
Sebenarnya, langkah ini adalah kelanjutan dari kesuksesan Indonesia mainkan biodiesel. Kita udah sukses terapkan B40 secara nasional sejak awal 2025. Prestasi itu aja udah bikin Indonesia dipandang sebagai pionir global dalam pemanfaatan bahan bakar nabati skala besar.
Manfaatnya riil: emisi gas rumah kaca berkurang, devisa negara lebih hemat karena impor solar turun, dan serapan minyak sawit lokal pun meningkat. Sebuah terobosan yang, jika berjalan mulus, bisa bikin banyak pihak lega.
Artikel Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Finansial Khusus untuk Tarik Investasi Asing di Tengah Gejolak Global
BPKH Salurkan Rp12,92 Triliun untuk Persiapan Biaya Haji 2025
Polri Bekali Personel dengan Buku Saku 0 Persen untuk Sosialisasi Program Pemerintah
Selat Hormuz Tetap Sepi Meski Gencatan Senjata Telah Disepakati