Di tengah bayang-bayang krisis energi global, muncul usulan yang bisa dibilang cukup berani dari mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Ia mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan pemotongan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Tujuannya jelas: menahan laju defisit anggaran negara yang kian mengkhawatirkan.
Latar belakang usulan ini adalah situasi internasional yang memanas. Perang di Timur Tengah, kata JK, telah memicu kekhawatiran serius akan krisis pasokan energi. Ini bukan lagi isapan jempol, tapi ancaman riil yang harus diantisipasi.
Ditemui di kediamannya di kawasan Brawijaya, Jakarta Selatan pada Minggu lalu, JK menjelaskan alasan di balik gagasannya.
"Kita minta agar dipertimbangkan untuk mengurangi defisit, mengurangi utang dengan cara mengurangi subsidi. Karena mengurangi subsidi berarti menaikkan harga. Dan itu dilakukan di banyak negara," ujarnya.
Menurutnya, mempertahankan harga BBM murah justru punya efek samping. Orang jadi enggan berhemat. Aktivitas mobilisasi dengan kendaraan pribadi akan tetap tinggi selama BBM terasa murah di kantong. Di sisi lain, beban subsidi bagi negara akan terus membengkak dari tahun ke tahun.
Artikel Terkait
Pemprov DKI Akui Validasi Pengaduan JAKI Pakai Foto AI, Kelurahan Ditegur
Ekspor Tempe Senilai Rp2,1 Miliar ke Chile Jadi Pintu Masuk Pasar Amerika Latin
Iran Klaim Tembak Jatuh Helikopter dan Pesawat AS, Washington Bantah
Ahli Serukan Penggunaan BBM Bijak sebagai Tanggapan Krisis Geopolitik dan Iklim