JAKARTA – Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) angkat bicara. Mantan Presiden RI itu mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa, lewat misi UNIFIL-nya, untuk segera menghentikan penugasan pasukan penjaga perdamaian di zona perang yang masih panas. Desakan ini bukan tanpa alasan. Ia dilontarkan setelah tiga prajurit TNI kita gugur di Lebanon beberapa waktu lalu.
Menurut SBY, ada perbedaan mendasar antara 'peacekeeping' dan 'peacemaking'. Kontingen Garuda yang ditugaskan di sana, jelasnya, masuk dalam kategori pertama. Tugas mereka menjaga perdamaian, bukan menegakkannya dengan kekuatan.
"Ini diatur dalam Chapter 6 Piagam PBB. Bukan Chapter 7 yang punya misi 'to enforce the peace'," tegas SBY lewat unggahan di akun X-nya, Minggu (5/4/2026).
"Mereka bertugas di 'blue line' atau di wilayah 'blue zone', yang bukan merupakan daerah pertempuran atau 'war zone'," tambahnya.
Namun begitu, realita di lapangan kini jauh berbeda. Zona yang semula aman telah berubah jadi medan tempur. Kontingen Indonesia yang seharusnya berada di sekitar 'Blue Line' perbatasan antara Israel dan Lebanon kini terjebak di area dimana pertempuran sengit antara Israel dan Hizbullah terjadi hampir setiap hari.
Keadaannya memang makin runyam. SBY bahkan mendapat kabar bahwa pasukan Israel telah bergerak maju sekitar 7 kilometer dari garis batas itu. Bayangkan saja, posisi para 'peacekeeper' yang tidak diperlengkapi untuk perang jadi sangat rentan. Mereka bisa jadi korban setiap saat, terperangkap di tengah baku tembak.
Artikel Terkait
Pemprov DKI Akui Validasi Pengaduan JAKI Pakai Foto AI, Kelurahan Ditegur
Ekspor Tempe Senilai Rp2,1 Miliar ke Chile Jadi Pintu Masuk Pasar Amerika Latin
Iran Klaim Tembak Jatuh Helikopter dan Pesawat AS, Washington Bantah
Ahli Serukan Penggunaan BBM Bijak sebagai Tanggapan Krisis Geopolitik dan Iklim