Biaya produksi pun melonjak signifikan. Inflasi harga bahan baku bahkan mencapai level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Situasi ini memaksa banyak produsen mempertimbangkan penyesuaian harga jual. Tujuannya sederhana: agar usaha mereka tetap bisa bertahan.
Namun begitu, ada secercah berita baik di tengah awan mendung ini. Sektor manufaktur nasional rupanya punya ketahanan yang patut diacungi jempol. Di tengah segala gangguan dan ketidakpastian, PMI Indonesia untuk Maret 2026 masih bertahan di angka 50,1. Angka itu berarti kita masih berada di zona ekspansi, meski tipis.
Agus Gumiwang mengaku terkejut sekaligus bersyukur dengan capaian ini.
Jadi, meski ancaman inflasi dan gangguan pasok nyata adanya, industri dalam negeri sejauh ini masih mampu bertahan. Ketahanan itu tentu perlu terus dijaga, mengingat situasi global masih sangat rentan berubah.
Artikel Terkait
Iran Klaim Tembak Jatuh Helikopter dan Pesawat AS, Washington Bantah
Ahli Serukan Penggunaan BBM Bijak sebagai Tanggapan Krisis Geopolitik dan Iklim
Libur Paskah Dongkrak Omzet Sewa Sepeda Ontel di Kota Tua Jakarta
Industri Plastik Berinovasi Cari Formula Baru Imbas Gangguan Pasokan Global