Isu kelangkaan BBM akibat tensi di Timur Tengah memaksa banyak pihak berpikir ulang. Tak terkecuali kalangan pengusaha. Mereka kini sedang mempertimbangkan opsi kerja dari rumah atau WFH sebagai respons. Tapi, ada satu hal yang terus digarisbawahi: produktivitas. Itu parameter utama. Tanpa itu, kebijakan apapun bisa jadi bumerang.
Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, bicara blak-blakan. Menurutnya, penerapan WFH harus diukur dengan cermat. "Kami memang sedang mempertimbangkannya," ujarnya. Tujuannya, untuk menciptakan 'sense of crisis' di antara para anggota asosiasi agar siap menghadapi kemungkinan krisis energi.
"Tapi, di lain sisi kami juga harus tetap mempertahankan produktivitas, jangan sampai turun," tegas Bob dalam pernyataannya, Jumat (3/4/2026).
Intinya, produksi harus tetap jalan. Bahkan mungkin perlu ditingkatkan. Bob khawatir, kalau kebijakan WFH malah bikin produksi mandek, yang terjadi nanti adalah ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. Imbasnya akan langsung terasa di masyarakat. Tekanan ekonomi bisa makin menjadi.
"Karena kalau misalnya kelangkaan energi diikuti dengan kelangkaan barang, itu bisa menyebabkan terjadinya inflasi yang akan memperburuk ekonomi kita," jelasnya.
Maka, pelaksanaannya harus hati-hati. Dunia usaha, bagaimanapun, tetap punya kewajiban menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan publik. Bob pun mewanti-wanti. Bagi sektor industri yang bergerak di produksi barang dan jasa, menerapkan WFH jelas bukan hal mudah. Bahkan, hampir mustahil.
"Yang jelas untuk industri enggak mungkin lah itu (WFH) diterapkan. Justru industri sedapat mungkin bisa memacu produksinya," katanya.
Namun begitu, bukan berarti tak ada ruang sama sekali. Untuk divisi back office atau pekerjaan administratif, WFH masih sangat mungkin. "Jangankan sehari, mungkin dua hari juga bisa," tambah Bob. Artinya, kebijakan ini harus benar-benar selektif, tidak bisa disamaratakan.
Latar belakang semua pembicaraan ini, tentu saja, adalah situasi global yang memanas. Konflik antara AS-Israel dan Iran telah memukul fasilitas energi krusial di Timur Tengah. Blokade militer Iran di Selat Hormuz semakin memperkeruh keadaan, mengganggu distribusi minyak global.
Indonesia pun terkena imbasnya. Sejumlah kapal tanker, termasuk milik Pertamina, dikabarkan masih tertahan di sekitar selat vital tersebut. Ketersediaan cadangan migas pun jadi taruhannya. Dalam situasi seperti inilah, wacana WFH muncul bukan sekadar soal kenyamanan, tapi sebagai langkah antisipasi yang penuh perhitungan.
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya Masih Buru Lima Anggota Jaringan Begal Bersajam di Jakarta
RUPS PTPP Setujui Perubahan Anggaran Dasar hingga Pengalihan Saham ke BP BUMN
Pemerintah Percepat Perjanjian Dagang demi Dorong Ekspor di Tengah Pelemahan Rupiah
Polisi Lumpuhkan Dua Begal Bersenjata Api yang Beraksi di Enam TKP Jakarta Timur dan Bekasi