Djamaa el-Djazair Resmi Jadi Masjid Terbesar Ketiga di Dunia, Simbol Peradaban Islam di Afrika

- Rabu, 20 Mei 2026 | 00:55 WIB
Djamaa el-Djazair Resmi Jadi Masjid Terbesar Ketiga di Dunia, Simbol Peradaban Islam di Afrika

Di tepi Teluk Aljir, di antara debur ombak Mediterania dan hiruk-pikuk kota, berdiri sebuah mahakarya yang seolah membekukan waktu. Great Mosque of Algeria, atau Djamaa el-Djazair, menjulang megah bukan sekadar sebagai tempat sujud, melainkan juga sebagai bukti peradaban yang hidup.

Tim redaksi mendapat kesempatan menyaksikan langsung kemegahan masjid ini pada Selasa, 19 Mei 2026. Kunjungan tersebut merupakan undangan dari Kementerian Pariwisata dan Kerajinan Tangan Aljazair dalam rangkaian acara Salon International du Tourisme et des Voyages (SITEV) 2026, sebuah pameran pariwisata dan perjalanan internasional yang ke-25.

Masjid ini memegang gelar yang membuat dunia menoleh: ia menjadi masjid terbesar ketiga di dunia setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Di daratan Afrika, Djamaa el-Djazair merupakan yang terbesar. Proyek ini adalah visi besar mantan Presiden Abdelaziz Bouteflika, sebuah simbol kejayaan Islam modern sekaligus warisan monumental pemerintahannya.

“Masjid ini menjadi masjid terbesar setelah masjid di Makkah dan Madinah, dan yang terbesar di Afrika. Djamaâ el-Djazair adalah kompleks wisata ilmiah dan keagamaan,” ujar seorang pemandu kepada para jurnalis.

Decak kagum mengiringi setiap langkah saat menyusuri masjid bersama puluhan jurnalis dari berbagai negara. Setiap sudut bangunan ini bercerita. Masjid berdiri di atas lahan seluas 27,7 hektar dengan luas bangunan mencapai 400.000 meter persegi. Di ruang utama, 120.000 jemaah dapat bersujud bersama memanjatkan doa kepada Sang Pencipta.

Selain itu, masjid ini memiliki perpustakaan yang mampu menampung seribu pembaca dan menyimpan satu juta buku tentang sejarah, sains, dan peradaban Islam. “Di bagian selatan terdapat pintu masuk utama, pusat kebudayaan, perpustakaan dengan satu juta buku, serta sekolah pascasarjana untuk berbagai bidang ilmu. Ada juga perumahan staf, gedung pasukan keamanan, gedung pemadam kebakaran, dan kantor administrasi Djamaâ el-Djazair,” jelas pemandu tersebut.

Salah satu keistimewaan yang paling menonjol adalah menara setinggi 265 meter yang seolah menembus langit Aljir. Dari puncaknya, panorama Kota Aljir terlihat 360 derajat. “Selanjutnya ada museum, yang merupakan kelanjutan alami dari ruang salat. Kami juga memiliki menara tertinggi di dunia dengan ketinggian 265 meter. Menara ini memiliki lima bagian: tiga bagian pertama digunakan untuk museum, dua bagian terakhir untuk pusat penelitian,” tambahnya.

Lingkungan luar Djamaa el-Djazair tak kalah hidup. Taman seluas 14 hektar ditanami pohon-pohon khas Mediterania, memberi teduh dan udara segar bagi siapa pun yang datang. Keajaiban ini lahir dari kolaborasi lintas benua: arsitek Jerman menggambar garis-garisnya, sementara kontraktor dari China membangunnya. Gaya Neo-Andalusia berpadu dengan kesederhanaan modern, dan kubah raksasa berdiameter 50 meter berkilau emas seakan menyatu sempurna dengan cakrawala.

Di balik kemegahan itu, para insinyur menanam ratusan bantalan isolasi seismik perpaduan karet khusus dan baja di bawah bangunan utama. Sistem ini dirancang untuk menahan guncangan hingga kekuatan 9,0 skala Richter. Proyek yang dimulai pada 2012 ini selesai hampir satu dekade kemudian dengan biaya lebih dari satu miliar dolar AS.

Dahulu, di masa kolonial Prancis, tempat ini menjadi pusat pergerakan misionaris Kardinal Charles Lavigerie. Kini, tanah yang sama bersujud kepada sejarah yang berbeda. Djamaâ el-Djazair berdiri di garis pantai Aljir, mengundang setiap orang yang datang untuk ikut merasakan bagaimana iman, seni, dan sains dapat bersatu dalam satu napas.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar