Kemenag Tetapkan 1 Dzulhijjah 1447 H Jatuh pada 18 Mei, Ini Niat dan Keutamaan Puasa Sepuluh Hari Pertama

- Rabu, 20 Mei 2026 | 01:30 WIB
Kemenag Tetapkan 1 Dzulhijjah 1447 H Jatuh pada 18 Mei, Ini Niat dan Keutamaan Puasa Sepuluh Hari Pertama

Bulan Dzulhijjah menjadi salah satu momentum istimewa bagi umat Islam untuk melipatgandakan pahala melalui berbagai amalan ibadah, salah satunya adalah puasa sunnah yang dikerjakan pada sepuluh hari pertama. Ibadah ini memiliki keutamaan khusus yang disebutkan dalam sejumlah dalil, dan pahalanya disebut berlipat ganda bagi siapa pun yang menjalankannya dengan penuh keikhlasan.

Kementerian Agama telah menetapkan bahwa 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah jatuh pada tanggal 18 Mei 2026, berdasarkan hasil sidang isbat. Dengan demikian, Hari Raya Idul Adha 1447 H diperingati pada Rabu, 27 Mei 2026. Puasa sunnah di bulan ini dapat dikerjakan mulai tanggal 1 hingga 7 Dzulhijjah, yang kemudian dilanjutkan dengan Puasa Tarwiyah pada tanggal 8 dan Puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah. Sementara itu, pada tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah, umat Islam dilarang berpuasa karena termasuk dalam hari tasyrik.

Menurut Hanif Luthfi Lc dalam bukunya berjudul "Amalan Ibadah Bulan Dzulhijjah" yang diterbitkan oleh Rumah Fiqih Publishing, sepuluh hari pertama bulan ini memiliki sejumlah keutamaan. Salah satunya adalah puasa yang dinilai sebagai ibadah spesial, di mana para pelakunya diberi kesempatan untuk berdoa dengan doa yang tidak tertolak. Keistimewaan ini didasarkan pada sejumlah hadits, termasuk riwayat dari Hunaidah ibn Khalid yang menyebutkan bahwa istri-istri Nabi Muhammad SAW biasa berpuasa selama sembilan hari di bulan Dzulhijjah, selain puasa Asyura dan puasa tiga hari setiap bulan.

Sebelum menjalankan ibadah puasa Dzulhijjah, mengetahui bacaan niat menjadi hal yang dianjurkan agar amalan semakin afdal. Niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah berbunyi: "Nawaitu shouma syahri dzil hijjah sunnatan lillahi ta'ala," yang artinya, "Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah Ta'ala."

Adapun saat berbuka puasa, disunnahkan untuk mengonsumsi makanan atau minuman yang manis guna mengembalikan energi tubuh. Setelah itu, dianjurkan membaca doa berbuka puasa. Salah satu doa yang diriwayatkan berbunyi: "Allahumma laka shumtu wabika aamantu wa 'alaa rizqika afthartu dzhaba dhomau wabtallatil uruuqu watsabatal ajru insyaallah." Artinya, "Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, kepada-Mu aku beriman, dan dengan rezeki-Mu aku berbuka. Telah hilang rasa haus, basahlah tenggorokan, dan tetaplah pahala dicurahkan atasku, insya Allah."

Keutamaan puasa di sepuluh hari pertama Dzulhijjah tidak hanya terletak pada pelipatgandaan pahala. Imam As-Syarwani menyatakan bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadan adalah Al-Asyhur al-Ḥurum, dan urutannya dimulai dari Muharam, Rajab, Dzulhijah, kemudian Dzulqa’dah. Di sisi lain, sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dari Sayyidina Abdullah ibn ‘Abbas menegaskan bahwa amal saleh pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah lebih disukai Allah dibandingkan dengan jihad di jalan Allah, kecuali bagi seseorang yang keluar berjihad dengan membawa harta dan jiwanya, lalu tidak kembali dengan sesuatu apa pun.

Demikianlah bacaan niat puasa Dzulhijjah untuk tanggal 1 hingga 7, lengkap dengan teks Arab, latin, artinya, serta doa berbuka dan keutamaannya. Wallahu A'lam.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Tags