Jakarta kembali berduka. Kabar meninggalnya seorang petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau, Senin lalu, menyentak banyak pihak. Muharmizan, personel Regu 4 Manggala Agni Daops Siak, wafat usai bertugas memadamkan api di Bengkalis. Insiden ini pun langsung mendapat sorotan.
Wakil Ketua Komisi IV DPR, Alex Indra Lukman, angkat bicara. Ia menegaskan, perlindungan bagi para petugas di lapangan harus segera diperkuat. "Nyawa itu sangat berharga," ujarnya di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
"Karenanya perlengkapan keselamatan itu sangat penting tersedia dan dipakai secara lengkap saat bertugas."
Bagi Alex, kejadian ini bukan yang pertama. Sebelumnya, pada Agustus 2025, insiden serupa sudah merenggut nyawa Ipda Donald Junus Halomoan, perwira Brimob Polda Riau, saat menangani karhutla di Rokan Hilir. Pola yang berulang ini, menurutnya, tak boleh lagi terjadi.
"Mewakili pimpinan dan anggota Komisi IV DPR RI, kami menyampaikan duka mendalam atas gugurnya salah seorang anggota Regu 4 Manggala Agni Daops Siak," tegas Alex.
"Kami juga meminta agar penyebab gugurnya personel ini diselidiki hingga tuntas."
Ia mendesak kementerian terkait untuk memastikan seluruh personel Manggala Agni dilengkapi dengan perlengkapan standar keamanan tinggi. Bukan peralatan seadanya untuk menghadapi tugas berisiko seperti ini.
Namun begitu, perhatiannya tak hanya pada alat. Alex menyoroti hal lain yang kerap terlupakan: jaminan sosial. Ia menekankan pentingnya asuransi kesehatan dan keselamatan kerja bagi 956 personel Manggala Agni di Sumatera. Perlindungan semacam ini, katanya, adalah bentuk nyata kehadiran negara bagi keluarga para pahlawan di garis depan.
Di sisi lain, pemeriksaan kesehatan rutin juga ia anggap krusial. Pekerjaan memadamkan api di tengah hutan dan lahan terbuka jelas menguras tenaga dan mental. Deteksi dini terhadap kondisi fisik petugas bisa mencegah banyak hal yang tidak diinginkan.
Sementara desakan untuk perbaikan sistem perlindungan bergulir, ancaman di lapangan belum reda. Data terbaru dari BPBD dan Damkar Riau per Selasa (31/3) mencatat masih ada 21 titik api yang tersebar. Bengkalis sendiri jadi wilayah dengan titik api terbanyak, delapan titik, dengan api masih aktif dan asap tebal.
Upaya pemadaman tentu terus berjalan. Di Pelalawan dan Indragiri Hilir, misalnya, petugas masih bekerja keras. Mereka melakukan penyekatan dengan alat berat, berusaha membendung api agar tidak melahap kawasan hutan yang lebih luas lagi.
Perjuangan mereka di lapangan, dengan segala keterbatasan dan risiko, menunggu jawaban konkret dari meja kebijakan. Agar korban berikutnya benar-benar bisa dihindari.
Artikel Terkait
Bachtiar Nasir Desak Pemerintah Lakukan Diplomasi Darurat Usai Kapal Kemanusiaan Dicegat Israel, Lima WNI Ditangkap
Indonesia Perkuat Kerja Sama dengan Verra Percepat Perdagangan Karbon Kehutanan Berintegritas Tinggi
Kasus Gadis di Sungai Main Terungkap Setelah 25 Tahun, Interpol Tangkap Ayah Kandung sebagai Pelaku Pembunuhan
Kesehatan Mental Remaja Australia Mulai Pulih dari Dampak Pandemi, Namun Belum Kembali ke Level Pra-COVID