Gelombang protes di Iran kian tak terbendung. Situasinya memanas, bahkan berujung maut. Menurut laporan terbaru, korban jiwa sudah mencapai angka dua ribu orang dalam aksi demonstrasi besar-besaran belakangan ini.
Seorang pejabat Iran yang enggan disebut namanya mengonfirmasi angka mengerikan itu. Namun, dia justru menuding "kelompok teroris" sebagai dalang di balik tewasnya warga sipil dan aparat keamanan. Kabar ini sendiri disiarkan oleh sejumlah kantor berita internasional, Selasa lalu.
Semua ini berawal dari gejolak di Grand Bazaar Teheran akhir Desember silam. Kala itu, para pedagang lelah melihat nilai Rial Iran merosot tajam turun ke jalan menyuarakan kekecewaan atas kondisi ekonomi yang carut-marut. Tapi, api kemarahan itu rupanya menjalar cepat. Dari sekadar unjuk rasa ekonomi, gerakan ini berubah menjadi tantangan terbuka terhadap rezim teokratis yang telah berkuasa puluhan tahun.
Kini, jalanan di berbagai kota tak lagi sekadar ramai oleh spanduk dan yel-yel. Kerusuhan dan kekerasan seolah jadi menu harian. Situasi ini sampai membuat PBB angkat bicara. Komisaris Tinggi PBB untuk HAM, Volker Turk, lewat pernyataan resminya, menyatakan keterkejutan dan kekhawatiran mendalam.
"Siklus kekerasan mengerikan ini tidak dapat berlanjut," tegasnya.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Sampaikan Harapan Damai dan Optimisme di Perayaan Imlek Nasional
Taliban Tawarkan Dialog ke Pakistan di Tengah Korban Berjatuhan di Perbatasan
Jadwal Imsak dan Salat untuk Jakarta dan Kepulauan Seribu Hari Ini, 1 Maret 2026
Netanyahu Klaim Serangan Hancurkan Kompleks Khamenei, Iran Bungkam