Bantuan sebesar itu sangat signifikan. Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, sebelumnya mengaku negaranya sudah tiga bulan terakhir tak menerima impor minyak sama sekali. Bayangkan saja.
Akibatnya, krisis energi makin menjadi. Penjatahan bensin diperketat, pemadaman listrik bergilir pun kerap terjadi dan memperparah keadaan di negara komunis tersebut.
Masalah Kuba makin pelik setelah sekutu utamanya, Venezuela, tak lagi bisa membantu. Penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolás Maduro, oleh militer AS awal Januari lalu memutus pasokan minyak murah yang selama ini jadi andalan Havana.
Pemerintahan Trump lalu memperketat blokade. Mereka tak hanya menghentikan kiriman dari Venezuela, tapi juga mengancam akan mengenakan sanksi pada negara ketiga mana pun yang nekat memasok minyak ke Kuba. Ancaman itu rupanya efektif; Meksiko pun memutus untuk menghentikan ekspornya.
Sebelumnya, ada kapal lain bernama Sea Horse yang berbendera Hong Kong juga berasal dari Rusia rencananya akan membawa 200 ribu barel bahan bakar ke Kuba. Tapi akhirnya, kapal itu dialihkan ke Venezuela. Nasibnya berbeda dengan Anatoly Kolodkin yang kini hampir sampai tujuan.
Artikel Terkait
Indeks Bisnis-27 Anjlok 1,37%, AMRT dan BBCA Tekan Pasar
Bank Raya Luncurkan Pinang Flexi, Solusi Kredit Digital untuk Kebutuhan Pascalebaran
Polisi Imbau Warga Antisipasi Macet Parah di Sekitar GBK Sore Ini Jelang Final Timnas
Analis Proyeksikan Pergerakan IHSG Sideways di Pekan Perdagangan Singkat