Petugas Bersihkan Tumpukan Sampah Pasar Kramat Jati, Tapi Hanya Bantuan Darurat

- Senin, 30 Maret 2026 | 10:45 WIB
Petugas Bersihkan Tumpukan Sampah Pasar Kramat Jati, Tapi Hanya Bantuan Darurat

Jakarta - Tumpukan sampah yang memenuhi sudut-sudut Pasar Induk Kramat Jati akhirnya mulai diurai. Selama tiga hari berturut-turut, sejak Jumat lalu, petugas Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Timur turun tangan. Mereka mengerahkan sekitar 20 truk setiap harinya untuk mengangkut berton-ton sampah menuju TPST Bantar Gebang.

Namun begitu, bantuan besar-besaran ini ternyata bersifat sementara. Kepala Satpel LH Kecamatan Kramat Jati, Dwi Firmansyah, menegaskan hal itu bukan bentuk pengambilalihan kewajiban.

"Selama tiga hari, kami membantu pengangkutan sampah di Pasar Induk Kramat Jati, sejak Jumat (27/3) hingga Minggu (29/3), sebagai langkah darurat untuk mengurai penumpukan sampah di kawasan pasar tersebut," jelas Dwi, seperti dilaporkan Antara, Senin (30/3/2026).

Menurutnya, tanggung jawab utama tetap berada di pundak pengelola pasar, dalam hal ini Perumda Pasar Jaya. Dinas Lingkungan Hidup, kata Dwi, sebenarnya tidak punya kewenangan penuh untuk menangani sampah di kawasan usaha. Aksi kali ini murni upaya darurat.

"Kami tidak bisa membersihkan sampai tuntas karena ini bukan sampah liar. Ada pihak yang bertanggung jawab sebagai penghasil sampah," ucapnya tegas.

Di sisi lain, ada kendala teknis yang membatasi langkah mereka. Pasca insiden longsor di Bantar Gebang, kuota pembuangan untuk Kecamatan Kramat Jati dipangkas jadi hanya 16 truk per hari. Jatah yang terbatas itu, secara prinsip, diprioritaskan untuk sampah rumah tangga warga.

"Prioritas kami tetap sampah warga. Untuk kawasan komersial, seharusnya sudah memiliki sistem pengelolaan sendiri," tegas Dwi.

Dia lantas mengingatkan sejumlah aturan main. Pengelolaan sampah oleh pelaku usaha sebenarnya sudah diatur ketat, mulai dari UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, UU Perlindungan Lingkungan Hidup, hingga Perda DKI Jakarta No. 3 Tahun 2013. Intinya, siapa yang menghasilkan sampah, dialah yang wajib mengurusi dari hulu.

Hal menarik lain yang disoroti Dwi adalah komposisi sampah di pasar tersebut. Mayoritas adalah sampah organik sisa sayuran dan buah-buahan. Menurutnya, material seperti ini justru punya potensi besar. Bisa diolah jadi kompos atau produk bernilai lainnya, alih-alih langsung dibuang ke pembuangan akhir.

Jadi, meski bantuan darurat tiga hari itu meringankan, solusi permanennya tetap harus datang dari pengelola pasar. Persoalan sampah di Kramat Jati, seperti di banyak tempat lain, memang rumit. Butuh sinergi, bukan sekadar pengangkatan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar