“Sementara 5 juta motor listrik berpotensi menghemat hingga 1,75 juta kiloliter.”
Kalau angka-angka itu diakumulasi, total penghematannya bisa mencapai 3 juta kiloliter BBM per tahun. Jumlah yang nggak main-main. Dengan asumsi harga minyak USD90–100 per barel dan kurs rupiah saat ini, pengurangan impor itu setara dengan penghematan devisa sekitar Rp30–40 triliun per tahun. Angka yang fantastis.
Efeknya berantai. Beban subsidi yang berkurang berarti pemerintah punya ruang fiskal yang lebih lega. Uang negara bisa dialihkan ke sektor-sektor yang lebih produktif tadi. Belum lagi efek ganda dari elektrifikasi transportasi ini. Industri baterai dalam negeri bisa terdongkrak, investasi mengalir, dan lapangan kerja baru di sektor manufaktur dan energi bersih tercipta.
Karena itu, Martinus mendesak pemerintah untuk serius. Percepatan adopsi kendaraan listrik butuh kebijakan yang terintegrasi, mulai dari insentif fiskal, pembangunan infrastruktur pengisian daya (SPKLU) yang masif, sampai penguatan ekosistem industri nasional.
“Transisi ke kendaraan listrik bukan hanya langkah menuju energi bersih,” tegasnya.
“Ini adalah strategi konkret untuk penghematan devisa, menjaga ketahanan fiskal, dan memperkuat kedaulatan energi nasional di tengah ketidakpastian global.”
(NIA DEVIYANA)
Artikel Terkait
Indeks Bisnis-27 Anjlok 1,37%, AMRT dan BBCA Tekan Pasar
Bank Raya Luncurkan Pinang Flexi, Solusi Kredit Digital untuk Kebutuhan Pascalebaran
Polisi Imbau Warga Antisipasi Macet Parah di Sekitar GBK Sore Ini Jelang Final Timnas
Analis Proyeksikan Pergerakan IHSG Sideways di Pekan Perdagangan Singkat