Pasar saham Indonesia memulai pekan dengan langkah berat. IHSG dibuka anjlok 1,7 persen ke level 6.976 pada Senin (30/3/2026), melanjutkan tren merah dari akhir pekan lalu. Tekanan jual terasa luas, menghantam hampir semua sektor.
Indeks LQ45 bahkan terpuruk lebih dalam, merosot 1,97 persen ke 705,64. Sementara indeks JII tak jauh beda, melemah 1,67 persen ke level 464. Saham-saham big cap seperti BBCA, BBRI, BMRI, hingga ASII dan ANTM jadi sasaran empuk aksi jual di pagi hari.
Ini bukan kejutan sebenarnya. Sejak Jumat kemarin, sentimen sudah suram. IHSG ditutup di 7.097,06, turun hampir satu persen. Yang bikin was-was, aksi jual investor asing ternyata cukup ganas. Mereka mencatatkan net sell signifikan, mencapai Rp 1,76 triliun!
“Arus keluar dana asing pekan lalu terutama membebani saham-saham perbankan besar,” kata seorang analis pasar. BBCA, BBRI, BBNI, dan BMRI disebut-sebut sebagai kontributor utama pelemahan indeks. Situasi ini makin parah dengan sentimen ‘risk-off’ yang melanda pasar global.
Lalu, apa pemicunya? Faktor eksternal masih mendominasi. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya Iran, bikin semua orang tegang. Belum lagi harga minyak dunia yang melonjak. WTI naik tajam 5,46% ke level USD 99,64 per barel. Lonjakan ini langsung bikin khawatir inflasi global bakal kembali memanas.
Dampaknya terasa di mana-mana. Pasar saham global juga kompak memerah. Dow Jones AS jatuh 1,73%, sementara ETF Indonesia (EIDO) malah terkoreksi lebih dalam, 1,41%. Hanya FTSE 100 Inggris yang relatif stabil, cuma turun tipis 0,05%.
Artikel Terkait
Lalu Lintas Jakarta Timur Mulai Padat di Hari Pertama Usai Libur Lebaran
Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp68 Ribu per Kg, Tekanan Pangan Masih Terasa
Lebaran 2026: Kunjungan Wisata Jatim Tembus 5,3 Juta, Naik 18 Persen
Subaru Sambar 2026 Perbarui Fitur Keselamatan, Pertahankan Desain Ikonik