Ia mengakui, situasinya cukup singkat. Mungkin karena kelelahan setelah perjalanan jauh. Tapi itu tak mengurangi kebahagiaannya.
“Mungkin karena Bapak juga lelah dalam perjalanan, jadi saya hanya sempat meminta tanda tangan. Motivasi saya supaya bisa bertemu langsung dengan Bapak,” lanjut Mutiara.
Yang paling ia ingat adalah keramahan sang presiden. Gestur sederhana itu membuatnya merasa dihargai, jauh dari tanah air. “Bapak juga sangat ramah, dan alhamdulillah saya mendapat kesempatan memperoleh tanda tangan,” ungkapnya penuh syukur.
Pertemuan singkat itu, baginya, adalah pengalaman pertama yang sangat personal. Selama ini, sosok pemimpin nasional hanya ia saksikan sebagai gambar di layar kaca atau video daring.
“Ini pertama kali saya bertemu langsung. Selama ini hanya melihat di YouTube atau di TV,” pungkasnya.
Sebuah tanda tangan di buku, sebuah kenangan di hati. Bagi seorang Mutiara dan mungkin banyak diaspora lain di sana, malam di Tokyo itu lebih dari sekadar sambutan protokoler. Itu adalah pengalaman haru yang mengobati sedikit rasa rindu pada Indonesia.
Artikel Terkait
Harga Cabai dan Daging Turun Signifikan di Awal Pekan
Indeks Bisnis-27 Anjlok 1,37%, AMRT dan BBCA Tekan Pasar
Bank Raya Luncurkan Pinang Flexi, Solusi Kredit Digital untuk Kebutuhan Pascalebaran
Polisi Imbau Warga Antisipasi Macet Parah di Sekitar GBK Sore Ini Jelang Final Timnas