Balikpapan Berkisah: Dari Sumur Mathilda hingga Dapur Energi Masa Depan

- Jumat, 16 Januari 2026 | 07:30 WIB
Balikpapan Berkisah: Dari Sumur Mathilda hingga Dapur Energi Masa Depan

Kalau menyebut Balikpapan, yang terlintas bukan cuma tata kotanya yang rapi. Kota ini adalah jantung energi Indonesia, sebuah denyut yang sudah berlangsung lebih dari seratus tahun. Di sana, Kilang Pertamina berdiri, kini sedang mengalami transformasi besar lewat proyek RDMP Balikpapan. Bayangkan saja, ini seperti "dapur energi" raksasa yang sedang diperluas, dengan misi utama: menjamin pasokan energi, khususnya untuk Indonesia bagian Timur.

Ceritanya berawal jauh sebelum Indonesia merdeka. Tepatnya pada 10 Februari 1897, seorang warga Belanda bernama J.H. Menten menemukan sumur minyak pertama di daerah itu. Sumur itu lalu dinamai Mathilda. Menariknya, tanggal penemuan sumur Mathilda ini kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kota Balikpapan. Sejak momen itulah, kota kecil ini perlahan berubah wajah, bertransformasi menjadi kota industri minyak yang namanya dikenal di tingkat global.

Dulu, lokasi sumur Mathilda ternyata berada di dalam area Kilang Balikpapan. Kilang ini punya sejarah yang tak mulus. Ia sempat hancur lebur pada masa Perang Dunia II. Namun begitu, ia bangkit lagi. Dari fasilitas pengolahan skala kecil, kini berkembang menjadi salah satu kilang terbesar dan paling modern di tanah air. Perubahan besar itu terjadi berkat proyek infrastruktur energi terintegrasi, yaitu RDMP Balikpapan.

Nah, proyek RDMP ini bukan sekadar perluasan biasa. Ini adalah pembangunan masif dengan ambisi yang jelas. Kapasitas pengolahannya ditingkatkan secara signifikan, dari 260 ribu barel menjadi 360 ribu barel per hari. Tujuannya? Agar Indonesia bisa lebih mandiri dalam menyediakan BBM, LPG, dan produk petrokimia. Di sisi lain, ada misi lingkungan yang juga diusung. Produk yang dihasilkan nantinya akan setara standar Euro V artinya lebih bersih dan ramah lingkungan. Dampaknya, selain mengurangi ketergantungan pada impor, juga memberi kontribusi positif bagi bumi.

Peran Kilang Balikpapan memang sangat vital. Ia bagai urat nadi yang memompa energi ke seluruh wilayah Timur Indonesia. Dari Kalimantan, Sulawesi, Maluku, sampai Papua, mobilitas dan roda ekonomi di sana sangat bergantung pada kinerja kilang yang satu ini.

Muhammad Baron, VP Corporate Communication Pertamina, memberikan penjelasan mengenai hal ini.

“Balikpapan adalah warisan sejarah yang terus kita modernisasi agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Kami ingin generasi muda tahu bahwa di Balikpapan, para Perwira Pertamina sedang berjuang memastikan setiap tetes energi sampai ke pelosok Indonesia Timur. RDMP adalah bentuk komitmen kami agar Indonesia punya kemandirian energi yang lebih tangguh ke depannya," ujarnya.

Baron menambahkan, sejalan dengan tren global yang kini sangat memedulikan isu lingkungan, RDMP Balikpapan hadir dengan teknologi mutakhir. Teknologi ini memungkinkan pengolahan bahan baku yang lebih fleksibel dan tentu saja, menghasilkan produk berkualitas tinggi. Ini bukti nyata bahwa industri energi pun terus beradaptasi, bergerak ke arah yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Dengan sejarah panjangnya dan transformasi yang sedang berjalan, Kilang Balikpapan tetap kokoh berdiri. Ia adalah simbol ketahanan energi nasional, siap melayani bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk generasi penerus di masa depan. Pertamina sendiri, sebagai pelaku utama transisi energi, berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060. Berbagai program yang dijalankan diharapkan bisa berdampak langsung pada pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.

Semua upaya ini merupakan bagian dari transformasi perusahaan yang berorientasi pada tata kelola baik, pelayanan publik, serta keberlanjutan usaha dan lingkungan. Prinsip-prinsip ESG diterapkan di semua lini bisnis dan operasi, sebagai bentuk tanggung jawab yang berkelanjutan.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar