Pemulihan Pascabencana Sumatera Diperkirakan Tembus Rp130 Triliun

- Rabu, 25 Maret 2026 | 21:40 WIB
Pemulihan Pascabencana Sumatera Diperkirakan Tembus Rp130 Triliun

Pemulihan Pascabencana Sumatera: Butuh Dana Hingga Rp130 Triliun

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian baru-baru ini mengungkap angka yang fantastis. Pemulihan wilayah terdampak bencana hidrometeorologi di tiga provinsi Sumatera, katanya, bisa menelan biaya hingga Rp130 triliun. Dana sebesar itu rencananya akan digelontorkan untuk membangun kembali daerah yang luluh lantak, dengan target pengerjaan selama tiga tahun ke depan.

Angkanya memang luar biasa. Namun begitu, Tito menekankan bahwa itu masih hitungan sementara.

“Di Gugus Tugas sudah ada rencana induk untuk pembangunan tiga provinsi ini dalam waktu tiga tahun. Setahu saya, exercise-nya lebih kurang Rp130 triliun. Lebih kurang, ya. Ini enggak saya katakan angka fix karena mungkin ada double. Anggaran itu akan dikerjakan K/L selama multi-year tiga tahun,”

Ucapnya di Kantor Staf Kepresidenan, Jakarta, Rabu lalu. Menurutnya, perhitungan awal itu berasal dari Kementerian PPN/Bappenas, yang merangkum usulan dari berbagai kementerian, lembaga, dan pemda. Semuanya kemudian disatukan dalam sebuah Rencana Induk atau Renduk.

Targetnya, Renduk yang memuat postur anggaran raksasa itu bakal disahkan pemerintah paling lambat 1 April 2026. “Nanti kalau sudah dibuat, Menkeu akan biayai. Kalau sudah menjadi renduk, ini betul-betul planning-nya clear, siap. Apa saja yang mau dibuat, dan nilainya berapa,” tegas Tito.

Lalu, untuk apa saja dana ratusan triliun itu dialokasikan? Mantan Kapolri itu memberi beberapa contoh konkret. Mulai dari pembangunan hunian tetap untuk pengungsi, perbaikan sarana-prasarana pendukung seperti jalan dan jembatan permanen, hingga pemulihan fasilitas vital. Sekolah dan puskesmas yang rusak tentu jadi prioritas.

Jadi, meski angkanya masih bisa berubah, satu hal jelas: pekerjaan rumah untuk membangkitkan kembali Sumatera dari bencana ini sangatlah berat dan membutuhkan komitmen dana yang tidak main-main.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar