Menurut Trump, perubahan besar sedang menanti Iran. "Akan ada juga bentuk perubahan rezim yang sangat serius," tegasnya. Ia bahkan menyebut bahwa orang-orang dari rezim saat ini telah "terbunuh", yang secara otomatis akan memicu peralihan kekuasaan. Pernyataan ini terasa ambigu, tapi pesannya jelas: akhir dari era Khamenei sudah di depan mata.
Orang-orang yang diajaknya berunding, klaim Trump, sangat dihormati di Iran. Bahkan, salah satu dari mereka berpotensi menjadi pemimpin berikutnya. Negosiasi ini konon telah dimulai akhir pekan lalu dan berlanjut hingga Minggu. Trump merasa kedua belah pihak punya keinginan yang sama. "Iran sangat ingin mencapai kesepakatan, demikian pula dengan AS," klaimnya.
Rencana pertemuan lebih lanjut pun sudah disiapkan. "Kita akan bertemu hari ini mungkin melalui telepon karena sangat sulit untuk menemukan negara ketiga. Saya kira sangat sulit bagi mereka untuk keluar. Tapi kita akan bertemu segera. Kita akan melakukan pertemuan selama 5 hari," paparnya penuh keyakinan.
Namun begitu, dari Teheran datang bantahan keras. Kementerian Luar Negeri Iran dengan tegas menyangkal adanya perundingan apa pun dengan Amerika Serikat. Pernyataan Trump, bagi mereka, mungkin hanyalah ilusi atau propaganda belaka. Dua narasi yang bertolak belakang ini meninggalkan satu pertanyaan besar: apa yang sebenarnya terjadi di balik layar?
Artikel Terkait
OJK Tegaskan Fundamental Perbankan Tetap Solid Meski Ada Revisi Outlook
AS Kirim Proposal Damai ke Iran via Pakistan, Respons Teheran dan Israel Masih Belum Jelas
Vance Bantah Laporan Cekcok dengan Netanyahu Soal Pemukim Tepi Barat
Harga Emas Antam Naik Rp 7.000 per Gram, Buyback Melonjak Rp 27.000