Mentan Amran: Indonesia Perkuat Ketahanan Pangan Hadapi Ancaman Krisis Global

- Rabu, 25 Maret 2026 | 10:00 WIB
Mentan Amran: Indonesia Perkuat Ketahanan Pangan Hadapi Ancaman Krisis Global
Ketahanan Pangan Indonesia di Tengah Badai Global

Ancaman krisis pangan global makin nyata. Konflik geopolitik yang berkecamuk dan harga energi yang melambung tinggi membuat banyak negara waswas. Tapi, ada secercah harapan di tengah situasi yang suram ini. Indonesia, justru, menunjukkan langkah-langkah yang cukup meyakinkan untuk memperkuat ketahanan pangannya sendiri.

Strategi pemerintah berjalan di berbagai lini. Mulai dari upaya konkret meningkatkan produksi hingga modernisasi sektor pertanian. Semua itu bertujuan menjaga kemandirian nasional. Bahkan, bukan tidak mungkin, kondisi ini bisa mengantarkan Indonesia menjadi lumbung pangan dunia suatu hari nanti.

Faktanya, situasi global memang mengkhawatirkan. Eskalasi konflik di Timur Tengah, kalau terus berlanjut sampai akhir tahun, bisa menambah sekitar 45 juta orang ke dalam jurang kerawanan pangan. Angka ini menambah beban yang sudah ada: sebelumnya, sekitar 318 juta orang sudah hidup dalam kondisi serupa.

Peringatan Serius dari Mentan Amran

Merespon situasi itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman tak menampik bahwa ancaman krisis pangan global sangat serius.

“Setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak boleh bergantung pada negara lain,” tegas Amran dalam keterangan tertulisnya, Selasa (24/03/2026).

Menurutnya, ada beberapa faktor pemicu yang mirip dengan kondisi 2022 lalu. Kenaikan harga energi, ditambah gangguan di jalur pelayaran internasional dan biaya logistik yang membengkak, berpotensi memicu inflasi pangan global. Kita sudah merasakan dampaknya saat perang Rusia-Ukraina dulu.

Dampak konflik itu merambat ke mana-mana lewat rantai pasok global. Negara-negara yang selama ini menggantungkan diri pada impor pangan, jelas paling terpukul. Mereka menghadapi lonjakan harga dan pasokan yang sulit ditebak.

“Kalau terjadi krisis global, terlebih permasalahan geopolitik dari Iran versus Amerika dan Israel, yang paling aman adalah negara yang bisa memproduksi pangannya sendiri. Itu sebabnya kita harus memperkuat produksi dalam negeri,” papar Mentan Amran.

Indonesia di Jalur yang Tepat?

Nah, di tengah ancaman yang melanda dunia itu, posisi Indonesia justru dinilai cukup baik. Bahkan, ada yang bilang kita sedang berada di jalur yang tepat menuju kemandirian pangan.

Program pembangunan pertanian yang digulirkan sekarang ini nggak cuma fokus naikin produksi semata. Tapi juga membangun sistem yang kuat, modern, dan tentu saja, berkelanjutan. Targetnya jelas: swasembada pangan. Dan yang lebih ambisius lagi, menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

“Kita harus optimistis. Indonesia punya lahan, air, iklim dan sumber daya manusia. Kalau semua dimaksimalkan, swasembada sudah bukan mimpi, lumbung pangan dunia juga bukan hal yang mustahil,” ucap Mentan dengan penuh keyakinan.

Dua Strategi Utama: Intensifikasi dan Ekstensifikasi

Lalu, bagaimana caranya? Mentan Amran menyebut hasil strategi peningkatan produksi sudah mulai kelihatan. Tahun lalu, Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan. Ini berkat program intensifikasi dan ekstensifikasi yang dijalankan secara bersamaan.

Intensifikasi dilakukan lewat peningkatan produktivitas lahan. Caranya? Pakai benih unggul, mekanisasi pertanian, pompanisasi, dan meningkatkan indeks pertanaman. Sederhananya, mengoptimalkan apa yang sudah ada.

Di sisi lain, ekstensifikasi jalan dengan membuka lahan baru. Program cetak sawah dan optimalisasi lahan rawa digenjot untuk menciptakan sumber produksi baru.

“Mandiri mutlak, swasembada mutlak. Kita tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan yang ada, tetapi juga membuka lahan baru melalui cetak sawah dan optimalisasi lahan rawa. Semua harus kita optimalkan. Produksi harus naik secara signifikan,” ujarnya.

Menurut Amran, ada dua langkah utama yang jadi pilar untuk mempertahankan swasembada ini. Pertama, deregulasi. Kedua, transformasi pertanian dari tradisional menuju modern. Dua hal inilah kunci agar produksi pertanian nasional bisa bertahan menghadapi tantangan global yang makin kompleks.

“Langkah kami ada dua untuk mencapai swasembada berkelanjutan. Keluar dari permasalahan geopolitik kita terus benahi aturan, deregulasi dan transformasi pertanian dari tradisional ke modern kita masifkan,” pungkasnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar