WASHINGTON Kabar yang beredar dari media Israel cukup mengejutkan: Wakil Presiden AS JD Vance disebut-sebut terlibat cekcok dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Pemicunya? Desakan keras Vance agar Israel menindak aksi kekerasan pemukim ilegal Yahudi terhadap warga Palestina di Tepi Barat.
Laporan dari surat kabar Hayom itu menyebut Vance geram. Kekerasan dan aksi vandalisme oleh para pemukim di wilayah pendudukan itu, menurut laporan, membuatnya mendesak Netanyahu untuk bertindak. Padahal, secara internasional, status Tepi Barat dan Yerusalem Timur sudah jelas: wilayah Palestina yang diduduki. Keberadaan pemukiman Israel di sana pun dianggap melanggar hukum internasional.
Namun begitu, tim Vance langsung membantah. Mereka menampik keras narasi tentang pertengkaran itu.
"Berita tersebut sepenuhnya keliru," tegas Taylor Van Kirk, juru bicara Vance, lewat sebuah postingan di media sosial X.
Van Kirk menjelaskan, percakapan antara Vance dan Netanyahu dalam beberapa hari terakhir hanya berputar pada satu topik: serangan AS dan Israel ke Iran. Isu tentang pemukim ilegal dan Tepi Barat, katanya, sama sekali tidak dibahas.
Di sisi lain, situasi di tanah Palestina tetap mencemaskan. Sejak konflik Gaza meletup pada Oktober 2023, gempuran kekerasan di Tepi Barat tak kunjung reda. Data menunjukkan korban jiwa warga Palestina di sana telah mencapai lebih dari 1.130 orang, dengan puluhan ribu lainnya menderita luka-luka. Sebuah angka yang berbicara banyak tentang betapa runyamnya keadaan di lapangan.
Artikel Terkait
ISEI Riau Desak Reformulasi DBH Sawit, Nilai Porsi 4 Persen untuk Daerah Tak Adil
Menteri PU Targetkan Sekolah Rakyat Tahap II Rampung Juni 2026, Libatkan Hampir 60 Ribu Pekerja
Prabowo Kunjungi Miangas, Janji Rawat Bandara dan Perbaiki Puskesmas yang Tak Pernah Direnovasi Sejak Era Soeharto
Pemilahan Sampah di Jakarta Resmi Dimulai 10 Mei 2026, Antisipasi Kebijakan Baru TPST Bantargebang