BRIN Apresiasi UMM sebagai PTS Paling Agresif Bertransformasi Menuju Innovation University

- Sabtu, 09 Mei 2026 | 14:45 WIB
BRIN Apresiasi UMM sebagai PTS Paling Agresif Bertransformasi Menuju Innovation University

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, memberikan apresiasi tinggi kepada Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang dinilai tengah menunjukkan transformasi signifikan menuju status Innovation University. Pandangan ini disampaikan Arif saat memberikan kuliah tamu bertajuk “Sosialisasi Kebijakan Arahan Riset Nasional BRIN” di Ruang Sidang Senat UMM, Sabtu lalu. Menurutnya, dari sekian banyak perguruan tinggi swasta di Indonesia, UMM adalah yang paling agresif dan progresif dalam membangun kolaborasi konkret dengan dunia industri.

“UMM itu saya lihat sebagai perguruan tinggi swasta yang paling agresif dan progresif soal berhubungan dengan industri. Sesuai dengan mottonya, Inovasi Mandiri dan Berdampak, ini menunjukkan tanda-tanda kuat bahwa UMM sedang bertransformasi menjadi Innovation University,” ujar Arif di hadapan jajaran pimpinan dan puluhan peneliti UMM.

Dalam pemaparannya, Arif menjelaskan bahwa transisi menuju Innovation University tidak lagi cukup hanya dengan berfokus pada penciptaan pengetahuan dasar (basic research) atau pembangunan laboratorium canggih. Institusi pendidikan tinggi, lanjutnya, dituntut untuk memperkuat riset terapan (applied research) dan keterlibatan langsung dengan industri (industrial engagement). Langkah agresif yang diambil UMM dinilai sangat tepat untuk menjembatani fenomena Valley of Death sebuah kondisi di mana banyak hasil inovasi kampus layu sebelum berkembang karena gagal diserap oleh kebutuhan riil pasar.

Sementara itu, Arif juga memaparkan urgensi riset di tengah ancaman krisis iklim, perubahan geopolitik, dan disrupsi teknologi masif seperti Agentic AI serta transisi energi. Ia secara terbuka mengundang UMM untuk memaksimalkan fasilitas yang dimiliki BRIN dan memanfaatkan skema pendanaan bersama. Tak hanya itu, secara spesifik ia menantang para peneliti UMM untuk menggarap pengolahan critical mineral, seperti rare earth yang terkandung di dalam lumpur Lapindo, mengingat lokasi operasional UMM yang strategis di Jawa Timur.

Menanggapi apresiasi dan tantangan tersebut, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik menyatakan bahwa pihaknya sedang mengonsolidasikan seluruh potensi yang dimiliki menjadi sebuah ekosistem Solution Center of Excellence (CoE). Melalui terobosan micro-credential serta keberadaan unit strategis seperti Direktorat Saintek dan PT Hilirisasi Teknologi (PT Hintek), UMM berupaya keras mengawal inovasi mahasiswa dan dosen langsung ke sektor hilir.

“Kita ingin mendalami produk yang sudah ada di pasar, memodifikasinya agar kualitasnya lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan industri. Saat ini, fondasi pertumbuhan ekonomi nasional masih rapuh, karena didominasi sektor konsumsi,” urai Nazaruddin.

Ia menekankan, jika perguruan tinggi berani menginisiasi inovasi yang menguatkan sektor riil seperti industri pertanian, UMKM lokal, dan teknologi terapan kampus dapat menjadi lokomotif penggerak tren ekonomi. “Katakanlah kita dorong dan naikkan satu hingga dua persen saja menuju struktur ekonomi investment based yang berbasis riset dan inovasi, bangsa ini pasti akan berubah pesat. Ke sanalah UMM melangkah,” ucapnya.

Kolaborasi strategis antara UMM dan BRIN diharapkan menjadi akselerator agar riset tidak lagi sekadar menumpuk di perpustakaan sebagai literatur, melainkan terhilirisasi menjadi solusi ekonomi dan teknologi bagi kemajuan Indonesia.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar