WASHINGTON Di bawah terik matahari Florida, Donald Trump membuat pernyataan yang mengguncang. Mantan Presiden AS itu mengklaim akan mengendalikan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital dunia, bersama dengan pemimpin tertinggi Iran yang berikutnya. Pernyataannya itu bukan sekadar wacana; ia memberi sinyal kuat bahwa Washington dan sekutunya di Teluk siap mendorong perubahan rezim di Teheran.
Semuanya berawal dari sebuah pertanyaan wartawan mengenai nasib selat strategis itu. Trump, yang berbicara pada Senin (23/3/2026), langsung merespons dengan nada percaya diri. Menurutnya, negosiasi rahasia sudah berjalan.
"Itu akan segera dibuka. Akan dikendalikan bersama. Mungkin oleh saya, Amerika Serikat. Saya dan Ayatollah. Siapa pun Ayatollah saat ini, siapa pun Ayatollah berikutnya," ujar Trump.
Ia mengaku pemerintahannya sedang berbicara dengan sejumlah figur di Iran. Namun, satu nama jelas bukan target pembicaraan: Pemimpin Tertinggi saat ini, Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Siapa lawan bicaranya? Trump menolak menyebutkan identitas mereka. Alasannya sederhana tapi gelap: "Saya tidak ingin dia dibunuh," katanya. Sebuah pengakuan yang menyiratkan betapa berbahayanya permainan diplomasi ini.
Artikel Terkait
AS Kirim Proposal Damai ke Iran via Pakistan, Respons Teheran dan Israel Masih Belum Jelas
Vance Bantah Laporan Cekcok dengan Netanyahu Soal Pemukim Tepi Barat
Harga Emas Antam Naik Rp 7.000 per Gram, Buyback Melonjak Rp 27.000
Presiden Iran Serukan Solidaritas Muslim Hadapi Agresi AS dan Israel di Pidato Nowruz